Mahasiswi Ubaya Sulap Kantong Teh Celup Jadi Dekorasi Ramah Lingkungan
Sumber Foto: Tempo.co
Lifestyle

Mahasiswi Ubaya Sulap Kantong Teh Celup Jadi Dekorasi Ramah Lingkungan

BERAWAL dari kekhawatiran terhadap kandungan mikroplastik di kantong teh celup, mahasiswa Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Jeanne Theresia Mintarja, menciptakan dekorasi rumah dari kantong teh celup.

Dikutip dari Antara, peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan mikroplastik pada lima merek teh celup yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Penelitian oleh Ecoton dilakukan setelah jurnal "Environmental Science & Technology 2024" mengungkap bahwa masyarakat Indonesia tanpa sadar dapat menelan sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan.

Sementara Badan POM dalam penjelasannya, mengatakan teh celup yang terdaftar di Badan POM telah melalui evaluasi penilaian keamanan pangan termasuk penilaian keamanan kemasannya (kantong teh celup).

Jean menceritakan bahwa dirinya merupakan penggemar teh. Namun, belakangan dia membaca penelitian bahwa kantong teh celup berbahan plastik berpotensi melepaskan partikel mikroplastik ke dalam tubuh. “Sejak itu saya memutuskan untuk menggunting kantong teh saya. Jadi enggak lagi pakai kantong celup,” kata Jean kepada Tempo, Selasa, 9 Desember 2025.

Jean tidak langsung membuang kantong teh celup yang tidak ia pakai. Dia memutuskan untuk mengumpulkannya, dengan harapan benda itu bisa berguna sewaktu-waktu.

Perempuan asal Surabaya ini pun mulai menemukan ide untuk memanfaatkan sampah tak terpakai itu sejak awal tahun ini. Jean berpikir untuk membuat dekorasi rumah dari kantong teh itu. “Saya mengumpulkan kantong teh celup saya sendiri dan milik keluarga. Ada yang bekas dicelup maupun yang masih baru,” kata perempuan berkacamata itu.

Dalam mengolah kantong teh bekas, Jean terlebih dahulu memilah kantong teh yang ada, misalnya warna putih, cokelat, dan cokelat muda. Semakin gelap warna produk yang diinginkan, maka semakin besar rasio kantong teh terseduh yang digunakan.

Selanjutnya, kantong teh melalui tahap pulping atau penghancuran menjadi bubur dan dicampur dengan ekstrak biji guar gum agar bahan dapat melekat dengan baik. Campuran tersebut kemudian dituang ke dalam cetakan dan dikeringkan selama 2-3 hari.

Setelah benar-benar kering, produk diamplas dan dipernis untuk menghasilkan permukaan yang halus dan mengilap. Untuk membuat bentuk-bentuk tertentu, Jean dibantu dengan cetakan manual atau cetakan mesin 3D.

Jean juga memanfaatkan potongan kayu sisa produksi mebel dari perajin sekitar untuk membuat tatakan agar produk lebih kokoh. “Beberapa produk yang dihasilkan seperti jam, lampu meja, papan catur, dan nampan,” jelasnya.

Jean membawa inovasi daur ulang ini untuk tugas akhir kuliahnya. Jean menuturkan, minimnya penelitian terdahulu dan referensi produk serupa menjadi tantangan tersendiri dalam pengerjaan proyek ini. Oleh sebab itu, ia membutuhkan waktu selama satu tahun dari eksplorasi hingga menghasilkan produk jadi.

“Menyelaraskan ketertarikan saya terhadap material yang digunakan dengan esensi home decor cukup sulit. Selain estetik, produknya juga harus berfungsi dan memiliki ketahanan yang baik. Saya juga berkali-kali gagal dalam menyatukan kayu dengan kantong teh yang telah dicetak,” jelas Jeanne.

Kini, inovasi daur ulang itu diberi nama ‘Dipt’, diambil dari bahasa Inggris ‘dipped’ yang memiliki arti tercelup. Jeanne mengatakan tidak menutup kemungkinan Dipt dapat diproduksi secara masif dan dikomersialisasi. Namun, mengingat pengerjaan yang masih mandiri dan bergantung terhadap cahaya matahari dalam proses pengeringan, ia memilih untuk fokus mengembangkan dan meningkatkan kualitas produk-produk Dipt hingga benar-benar siap untuk dipasarkan secara luas.

“Masih banyak jenis dan bentuk produk yang dapat dieksplorasi. Karena pengerjaannya juga masih sepenuhnya manual, kerapian dan kepadatan bahannya akan lebih baik apabila dibantu dengan otomasi dan teknologi,” ucapnya.