Transformasi Tradisi Dekorasi Rumah Menjelang Idul Fitri
Prime Time News - JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang Idul Fitri, rumah-rumah di berbagai daerah di Indonesia mulai dihias dengan berbagai ornamen khas Lebaran.
Gantungan ketupat, lampu hias berbentuk bulan sabit, hingga banner bertuliskan “Selamat Idul Fitri” menjadi dekorasi yang kerap terlihat di ruang tamu maupun teras rumah.
Tradisi menghias rumah saat Lebaran bukan sekadar upaya mempercantik hunian.
Dalam perspektif antropologi, praktik tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan perubahan ruang, identitas sosial, hingga cara masyarakat merayakan hari raya.
Ketua Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Budaya dan Media Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Imam Setyobudi, mengatakan bahwa tradisi menghias rumah saat Lebaran merupakan bagian dari transformasi ruang dalam kehidupan sosial masyarakat.
Menurut dia, pada awalnya tradisi yang paling utama menjelang Lebaran adalah membersihkan rumah dan tempat ibadah.
Suasana sebuah pasar yang ramai dengan para pengunjung yang sedang melihat berbagai hiasan gantung berwarna hijau dan emas untuk merayakan Idulfitri.
Namun seiring waktu, praktik tersebut berkembang menjadi aktivitas menghias rumah sebagai persiapan menyambut tamu saat open house atau halal bihalal.
“Tradisi otentiknya adalah membersihkan rumah. Tetapi sekarang berkembang menjadi menghias rumah untuk menyambut tamu saat Lebaran,” kata Imam saat dihubungi Kompas.com, Jumat (13/3/2026).
Ia menjelaskan, rumah yang sehari-hari berfungsi sebagai ruang privat berubah menjadi ruang perayaan saat Lebaran.
Proses membersihkan, mengecat ulang, dan menghias rumah menjadi simbol transformasi dari ruang profan menjadi ruang sakral.
Dalam antropologi, perubahan tersebut dapat dimaknai sebagai bagian dari ritus peralihan atau rite of passage.
Rumah yang dibersihkan dan dihias kembali menjadi metafora dari pembersihan diri setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
“Perubahan visual rumah melambangkan awal yang baru setelah menjalani Ramadhan. Rumah yang dibersihkan dan dihias menjadi simbol kembali ke fitrah,” ujar dia.
Menurut Imam, tradisi tersebut juga berkaitan dengan nilai komunal dalam masyarakat Indonesia.
Tumpukan berbagai jenis dekorasi Idulfitri, mulai dari stiker dinding hingga papan ucapan Selamat Hari Raya, memenuhi wadah kardus di area pedagang.
Saat Lebaran, rumah tidak lagi hanya menjadi ruang pribadi, melainkan ruang sosial yang terbuka untuk menerima tamu.
Melalui tradisi silaturahmi dan open house, rumah menjadi tempat mempererat kembali hubungan keluarga, tetangga, dan kerabat yang mungkin sempat renggang.
“Rumah menjadi panggung untuk ritual silaturahmi. Tuan rumah menunjukkan keramahtamahan dengan mempersiapkan rumahnya sebaik mungkin,” kata dia.
Dekorasi juga mencerminkan identitas sosial
Dalam perspektif antropologi, cara seseorang menghias rumah saat Lebaran juga dapat merepresentasikan identitas sosial dan status ekonomi keluarga.
Imam menjelaskan bahwa dekorasi rumah sering kali menjadi bentuk komunikasi non-verbal mengenai posisi sosial seseorang di masyarakat.
Cara menata ruang tamu, memilih dekorasi, hingga jenis perabot yang digunakan dapat menjadi simbol gaya hidup serta identitas kelas sosial.
Ia menambahkan, keluarga yang mampu secara ekonomi cenderung menghadirkan dekorasi yang lebih mewah atau estetis, seperti kaligrafi berbingkai, lampu hias, hingga gorden baru di ruang tamu.
Meski demikian, menurut dia, makna utama dari tradisi tersebut tetap berkaitan dengan upaya menyambut tamu dan mempererat hubungan sosial saat hari raya.
Imam mengatakan, praktik menghias rumah saat Lebaran sebenarnya bukan fenomena baru.
Tradisi tersebut merupakan hasil akulturasi antara budaya lokal Nusantara dengan nilai-nilai religius Islam yang berkembang kemudian.
Sebelum pengaruh Islam masuk secara luas, masyarakat Nusantara sudah memiliki kebiasaan membersihkan dan memperbaiki rumah menjelang peristiwa besar atau perayaan.
Dalam sejumlah budaya lokal, seperti Jawa, Melayu, dan Bugis, aktivitas membersihkan rumah memiliki makna ritual sebagai bentuk persiapan menyambut peristiwa penting.
Ketika Islam berkembang di Nusantara, tradisi tersebut kemudian berpadu dengan simbol-simbol religius yang berkaitan dengan Idul Fitri.
Salah satu simbol yang paling kuat dalam dekorasi Lebaran adalah ketupat.
Menurut Imam, ketupat merupakan contoh akulturasi budaya antara tradisi lokal dan ajaran Islam.
Penggunaan janur sebagai bahan ketupat berasal dari tradisi agraris masyarakat Nusantara.
Namun dalam perkembangan budaya Islam di Jawa, ketupat kemudian dimaknai sebagai simbol permintaan maaf dan kebersamaan.
“Ketupat bukan hanya makanan atau hiasan, tetapi simbol rekonsiliasi sosial. Tradisi saling mengantar ketupat merupakan cara masyarakat mencairkan konflik melalui simbol ngaku lepat atau mengakui kesalahan,” jelas dia.
Selain ketupat, simbol lain yang sering muncul dalam dekorasi Lebaran adalah bulan sabit dan kaligrafi Arab.




