Transformasi Tradisi Dekorasi Lebaran: Dari Kebersihan ke Perayaan Sosial
Sumber Foto: KuatBaca
Lifestyle

Transformasi Tradisi Dekorasi Lebaran: Dari Kebersihan ke Perayaan Sosial

Prime Time News - 1. Tradisi Menghias Rumah Makin Populer Menjelang Lebaran

Menjelang Idul Fitri, banyak rumah di berbagai daerah di Indonesia mulai dihiasi dengan ornamen khas seperti gantungan ketupat, lampu berbentuk bulan sabit, hingga banner ucapan hari raya. Tradisi ini tidak hanya bertujuan mempercantik rumah, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat menyambut datangnya hari raya setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.

2. Dari Membersihkan Rumah Menjadi Menghias Ruang Perayaan

Ketua Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Budaya dan Media Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Imam Setyobudi, menjelaskan bahwa pada awalnya tradisi menjelang Lebaran lebih berfokus pada kegiatan membersihkan rumah dan tempat ibadah. Seiring waktu, praktik tersebut berkembang menjadi aktivitas menghias rumah untuk menyambut tamu saat acara silaturahmi, open house, atau halal bihalal.

3. Rumah Berubah dari Ruang Privat Menjadi Ruang Sosial

Dalam perspektif antropologi, rumah yang dibersihkan dan dihias menjelang Lebaran mencerminkan perubahan fungsi ruang. Rumah yang biasanya bersifat privat berubah menjadi ruang sosial yang terbuka bagi keluarga, tetangga, dan kerabat yang datang bersilaturahmi. Transformasi ini juga dimaknai sebagai simbol perubahan dari ruang sehari-hari menjadi ruang perayaan.

4. Dekorasi Lebaran Juga Cerminkan Identitas Sosial

Cara seseorang menghias rumah saat Lebaran dapat menjadi bentuk komunikasi non-verbal mengenai identitas sosial dan kondisi ekonomi keluarga. Pilihan dekorasi, penataan ruang tamu, hingga penggunaan perabot baru sering kali merepresentasikan gaya hidup serta posisi sosial dalam masyarakat, meskipun tujuan utamanya tetap untuk menyambut tamu dengan baik.

Beberapa simbol yang sering muncul dalam dekorasi Lebaran memiliki makna budaya yang kuat, seperti ketupat dan bulan sabit. Ketupat, misalnya, merupakan hasil akulturasi antara tradisi agraris Nusantara dengan nilai-nilai Islam yang berkembang kemudian. Dalam budaya Jawa, ketupat dimaknai sebagai simbol permintaan maaf dan rekonsiliasi sosial, sementara simbol bulan sabit menghubungkan masyarakat Muslim Indonesia dengan identitas Islam secara global.