Lumut Sebagai Pengumpul DNA Lingkungan untuk Pantau Keanekaragaman Hayati
Sumber Foto: Tempo.co
Lifestyle

Lumut Sebagai Pengumpul DNA Lingkungan untuk Pantau Keanekaragaman Hayati

DEKORASI Natal berupa lumut hijau lembut yang kerap digunakan di rumah-rumah ternyata dapat menyimpan jejak DNA hewan, tumbuhan, hingga mikroorganisme di sekitarnya. Hal itu terungkap dalam studi terbaru yang dipimpin oleh University of Copenhagen

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology Resources itu menunjukkan bahwa lumut berfungsi sebagai pengumpul alami DNA lingkungan atau environmental DNA (eDNA). Seiring waktu, partikel genetik dari berbagai makhluk hidup yang bergerak di suatu wilayah dapat terperangkap di dalam struktur lumut yang menyerupai spons.

Penemuan ini dinilai penting di tengah krisis keanekaragaman hayati dan dampak perubahan iklim yang terus mengubah ekosistem global. Para ilmuwan saat ini membutuhkan metode pemantauan biodiversitas yang sederhana, andal, dan mudah diterapkan, dan lumut dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi tersebut.

Gagasan penelitian ini berawal dari pengalaman kerja lapangan di Pulau Christiansø, Denmark. Ahli biologi Kasun Bodawatta mendapatkan ide tersebut secara tidak sengaja. “Saya sedang melakukan kerja lapangan di Pulau Christiansø, Denmark, ketika saya tersandung dan jatuh di atas hamparan lumut yang lembut. Lalu saya berpikir: Hei, ini seperti spons,” kata Bodawatta, dikutip dari laporan Earth, 25 Desember 2025.

“Mungkin lumut bekerja seperti spons yang menyerap DNA lingkungan, sama seperti spons laut yang dapat digunakan untuk mengumpulkan DNA di ekosistem laut,” ujarnya.

Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti mengumpulkan sampel lumut berukuran kecil dari Lille Vildmose, kawasan cagar alam di Denmark. Setiap sampel hanya berukuran 6 x 6 sentimeter, namun mampu mengungkap keberadaan DNA dari berbagai organisme.

Hasil analisis menunjukkan adanya DNA dari 13 spesies burung, termasuk angsa abu-abu dan common redstart, serta 11 spesies mamalia seperti bison, luak, dan kelelawar pipistrelle. Selain itu, ditemukan pula DNA dari dua spesies amfibi, 54 invertebrata, 21 tumbuhan, 553 genus bakteri, dan 210 genus jamur.

“Dengan hanya mengusap permukaan potongan kecil lumut menggunakan kapas, kami dapat mendeteksi hewan liar lokal seperti bison dan luak—dan bukan hanya DNA babi yang tersebar luas di sebagian besar lanskap Denmark,” tutur Bodawatta. “Ini menunjukkan potensi besar lumut untuk memantau keanekaragaman hayati alami.”

Selama ini, metode eDNA telah banyak digunakan untuk memantau ekosistem perairan seperti sungai dan laut. Namun, penerapannya di darat sering terkendala kebutuhan peralatan mahal, tenaga ahli, dan sumber listrik. Lumut dinilai menawarkan alternatif yang lebih praktis karena mampu menangkap partikel DNA dari udara, hujan, maupun hewan yang melintas.

Untuk melihat potensi penerapannya secara global, peneliti juga mengumpulkan sampel lumut dari habitat hutan dan sabana di Pantai Gading. Hasilnya menunjukkan bahwa lumut di wilayah tersebut juga menyimpan informasi genetik yang kaya.

“Hal istimewa dari lumut adalah ia ditemukan di hampir setiap benua dan, tidak seperti sebagian besar metode lain, pendekatan dengan kapas ini tidak memerlukan listrik, peralatan mahal, atau kerja lapangan yang terspesialisasi,” kata salah satu penulis studi, Kathrin Rousk. “Pada prinsipnya, Anda bisa berjalan-jalan di hutan, mengusap segenggam lumut, dan mendapatkan sidik biologis suatu area.”

Selain bersifat sederhana, metode ini juga relatif tidak merusak lingkungan karena lumut tidak perlu diambil atau dihancurkan. Hal ini membuatnya cocok diterapkan di habitat yang rapuh atau dilindungi, serta berpotensi digunakan dalam proyek sains warga untuk pemantauan keanekaragaman hayati.

Peneliti juga menemukan bahwa lumut dapat menangkap DNA dari hewan yang melintas di udara. Bahkan, di Pantai Gading, sampel lumut mengungkap DNA burung langka yang sudah tidak lagi ditemukan di lokasi tersebut, menandakan bahwa lumut dapat menyimpan jejak genetik dalam waktu lama.

“Hal yang menarik adalah sesuatu yang sesederhana lumut ternyata bisa memberi tahu kita begitu banyak tentang alam di sekitar kita,” kata Bodawatta. “Kami masih perlu menyempurnakan teknik ini, tapi lumut sangat menjanjikan sebagai cara untuk memantau kehidupan hewan dan tumbuhan di seluruh dunia.”