Inovasi Mahasiswa Ubaya: Dekorasi Rumah Ramah Lingkungan dari Kantong Teh Bekas
Sumber Foto: Antara News jatim
Lifestyle

Inovasi Mahasiswa Ubaya: Dekorasi Rumah Ramah Lingkungan dari Kantong Teh Bekas

Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa Tugas Akhir Program Studi Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Jeanne Theresia Mintarja, membuat produk dekorasi rumah dari olahan kantong teh celup bekas.

“Keluarga saya memang sering konsumsi teh. Lalu saya dapat info kalau kantong teh itu ternyata mengandung mikroplastik. Dari situ saya terpikir, kalau dibiarkan dibuang langsung, dampaknya buruk bagi lingkungan. Jadi, bahan ini harus bisa diolah,” ujar Jeanne di kampus setempat, Selasa.

Jeanne menjelaskan risetnya berlangsung sejak semester lima, meliputi seluruh proses mulai pengumpulan bahan hingga pembuatan produk. Tantangan terbesar baginya adalah menentukan bentuk produk yang paling sesuai dengan karakter material.

“Karena fokus saya material, tantangannya adalah memilih produk apa yang bisa diterima masyarakat. Jadinya harus menyesuaikan karakter material dengan fungsi produknya. Itu yang paling sulit,” katanya.

Proses pengolahan dimulai dari pemilahan kantong teh berdasarkan warna, kemudian diblender hingga menjadi bubur bertekstur. Bubur tersebut dapat diolah menjadi lembaran seperti kertas daur ulang atau dijadikan padatan menggunakan cetakan.

Hingga kini, Jeanne menghasilkan tiga produk utama berlabel “Dipt”, yakni tray dekorasi, jam meja, dan lampu meja, masing-masing dengan beberapa variasi estetika. Ia berencana memperluas jenis produk dan meningkatkan kerapian hasil akhir.

“Ingin memperluas produk dan bikin hasilnya lebih rapi. Produksinya juga ke depan harus lebih cepat,” ucapnya.

Ia juga menyiapkan pengembangan warna menggunakan pewarna makanan agar tetap organik.

“Warnanya bisa dikembangkan dengan pewarna makanan supaya tetap aman dan organik,” tuturnya.

Produk “Dipt” akan dipasarkan pada pameran tugas akhir akhir Januari. Harganya mulai Rp100 ribu, menyesuaikan bentuk serta peralatan yang digunakan dalam proses produksi.

“Prosesnya panjang, cost-nya juga tinggi. Jadi, harganya sekitar Rp100 ribu-an. Tergantung bentuk dan alat yang dipakai,” kata Jeanne.