Bangkai Pesawat Merpati Dijual untuk Dekorasi Restoran dan Edukasi
Sumber Foto: Pontianak Post
Lifestyle

Bangkai Pesawat Merpati Dijual untuk Dekorasi Restoran dan Edukasi

Pemilik gudang mendapatkan bangkai-bangkai pesawat Merpati Nusantara Airlines setelah maskapai pelat merah itu berhenti beroperasi pada Februari 2014. Peminat sebenarnya banyak, tapi kerap terbentur harga.

IWAN KAWUL, Sukoharjo

Tak ada bandara di Desa Gupit, Sukoharjo, Jawa Tengah. Tapi, pandemi Covid-19 ternyata membuat banyak pesawat berdatangan ke sana.

Persisnya ke sebuah gudang di Dusun Dukuh RT 01 RW 05, desa yang masuk wilayah Kecamatan Nguter tersebut. Bukan pesawat yang aktif memang, melainkan 11 bangkai pesawat bekas maskapai Merpati Nusantara Airlines setelah maskapai pelat merah itu tak lagi beroperasi sejak Februari 2014.

Gudang tersebut milik “Ambon” Muhtarom. Pria asal Tuban, Jawa Timur, itu sebelumnya menggeluti bisnis scrap kapal. Scrap kapal merupakan bisnis daur ulang material logam kapal tua atau yang sudah tidak digunakan. Sistemnya dengan membongkar kapal menjadi potongan-potongan besi tua, lalu dijual ke industri baja.

“Sebelumnya gudang di Jakarta, sekarang dipindah ke Sukoharjo,” jelas Mahdianto, salah seorang karyawan yang bertugas di gudang, kepada Radar Solo Grup Jawa Pos (11/1).

Tercatat 11 unit bangkai pesawat tersimpan rapi di atas lahan seluas 4.000 meter persegi. Pesawat-pesawat itu dijual untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sarana edukasi penerbangan hingga pemanis bangunan dengan konsep restoran atau kafe bertema aviasi.

“Sudah ada satu unit pesawat terjual ke Jawa Timur untuk kebutuhan edukasi penerbangan. Itu jenisnya CASA 212-200 dengan harga Rp 1,2 miliar,” jelasnya.

Mahdianto menambahkan, peminat bangkai pesawat sebenarnya cukup banyak. Mayoritas ingin memanfaatkannya untuk dekorasi restoran dan kafe. Namun, negosiasi sering terbentur permasalahan harga.

Soal harga, bervariasi tergantung jenis dan ukurannya. Satu unit bangkai pesawat harga dasarnya dibanderol mulai Rp 700 juta. Harga itu dengan catatan diambil sendiri oleh pembeli.

Jika pembeli masih di sekitar Pulau Jawa dan meminta diantarkan, ongkos kirimnya di kisaran Rp 50 juta–Rp 60 juta. Sedangkan biaya perakitan dan pemasangan mencapai Rp 200 juta–Rp 300 juta.