Pengaruh Budaya Pop Terhadap Tren Pariwisata Global
Prime Time News - Gelombang pariwisata yang didorong oleh budaya populer semakin meningkat pesat, dengan Korea Selatan sebagai contoh utamanya. Menurut data dari Seoul, pada Agustus 2025, jumlah pengunjung internasional mencapai 1,36 juta, melampaui level sebelum pandemi. Dari jumlah tersebut, pengunjung dari Tiongkok menyumbang proporsi terbesar, diikuti oleh Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat. Dalam tujuh bulan pertama tahun ini, kota tersebut menyambut 8,28 juta pengunjung, meningkat sekitar 5,5% dibandingkan periode yang sama sebelum Covid-19.
Selain peningkatan jumlah wisatawan, perilaku perjalanan juga berubah secara signifikan. Banyak wisatawan, terutama anak muda, tidak lagi memilih destinasi dengan cara tradisional, melainkan mencari tempat-tempat yang muncul dalam film, video musik, atau yang terkait dengan idola mereka. Tempat-tempat terkenal seperti Desa Hanok Bukchon, Menara N Seoul, Taman Naksan, dan lain-lain, telah menjadi destinasi "wajib dikunjungi" setelah muncul dalam film-film populer dan produk hiburan.
Efek ini tidak terbatas pada Korea Selatan. Di Inggris, Google mencatat peningkatan 40% dalam pencarian kata kunci "liburan Korea" pada Agustus 2025. Tur bertema Korea juga mengalami peningkatan 17% dari tahun ke tahun, menurut Wayfarer Travel. Angka-angka ini menunjukkan pengaruh luas budaya pop, yang telah melampaui batas negara dan secara langsung mendorong pariwisata.
Salah satu pendorong terbaru adalah serial animasi Netflix "K-pop Demon Hunters." Hanya dua bulan setelah dirilis, jumlah unggahan tentang Taman Nasional Naksan hampir berlipat ganda, dari 1.624 menjadi 3.535 di platform media sosial. Tidak hanya lokasi syuting, tetapi juga pengalaman sehari-hari seperti pemandian umum, warung makan cepat saji, dan kelas tari K-pop telah menjadi objek wisata populer.
Data dari Creatrip menunjukkan bahwa pengeluaran untuk hanbok meningkat sebesar 30%, tur pemandian umum sebesar 84%, dan kelas tari K-pop mengalami pertumbuhan yang lebih kuat. Wisatawan tidak hanya "check-in berdasarkan film" tetapi juga ingin merasakan suasana budaya yang mereka lihat di layar, mulai dari makanan hingga kehidupan sehari-hari.
Dari perspektif yang lebih luas, tren ini diperkuat oleh pengaruh KOL (Key Opinion Leaders) dan media sosial. Menurut Booking.com, 67% Gen Z Vietnam ingin bepergian ke lokasi yang pernah muncul di film atau acara TV, dan 69% menggunakan media sosial untuk mencari inspirasi perjalanan. Perjalanan "mengikuti jejak idola" atau "perjalanan konser yang dikombinasikan dengan wisata" semakin populer, menciptakan segmen baru dalam industri pariwisata.
Di Vietnam, efek ini juga terlihat jelas. Video musik "See Tình" dan "Bắc Bling" tidak hanya menyebar di platform digital tetapi juga menarik perhatian ke destinasi seperti Hoi An dan Bac Ninh. Menyusul kesuksesan "Bắc Bling," tur gratis di Bac Ninh dengan cepat penuh, dengan sekitar 400-500 pendaftaran per minggu.
Di industri film, film-film seperti "I See Yellow Flowers on Green Grass" membantu meningkatkan jumlah wisatawan ke Phu Yen sebesar 20-25%, sementara "Kong: Skull Island" berkontribusi dalam memperkenalkan citra Trang An, Teluk Ha Long, atau Phong Nha-Ke Bang ke dunia. Secara global, menurut TCI Research, sekitar 80 juta wisatawan telah memilih destinasi mereka berdasarkan film atau program televisi yang telah mereka tonton.
Para ahli percaya bahwa budaya populer adalah "kekuatan lunak" baru dalam industri pariwisata. Selain meningkatkan kesadaran, film, musik, dan KOL (Key Opinion Leaders/Tokoh Inspiratif Utama) juga merangsang permintaan akan pengalaman nyata. Namun, untuk mengubah inspirasi menjadi arus wisatawan yang stabil, kolaborasi erat antara industri pariwisata dan industri kreatif sangat penting.
Korea Selatan sedang mengejar arah ini, dengan tujuan menarik 30 juta wisatawan internasional pada tahun 2030. Negara ini tidak hanya berinvestasi dalam infrastruktur seperti Seoul Arena (yang diperkirakan selesai pada Maret 2027, dengan kapasitas 28.000 orang), tetapi juga meningkatkan anggaran filmnya menjadi 149 miliar won pada tahun 2026, sambil mengembangkan platform data pariwisata terintegrasi dan kartu perjalanan pintar.
Sementara itu, Vietnam dianggap sedang menghadapi peluang besar. Namun, untuk mencapai terobosan, industri pariwisata perlu secara proaktif memanfaatkan film, musik, dan KOL (Key Opinion Leaders) sebagai produk ekspor budaya, alih-alih hanya mengandalkan sumber daya alam.
Tren perjalanan yang terinspirasi oleh film, KOL (Key Opinion Leaders), dan budaya pop menunjukkan pergeseran yang jelas: dari "berwisata untuk melihat" menjadi "berwisata untuk menjalani pengalaman yang Anda sukai." Di era digital, di mana emosi didorong oleh layar, perjalanan wisata juga dimulai dengan adegan film, melodi, atau idola.




