Kontroversi John Hartman: Ucapan Provokatif dan Imbasnya di Piala Dunia 2022
BLITAR - Kontroversi John Hartman di Piala Dunia 2022 kembali jadi sorotan publik sepak bola. Sosok yang dikabarkan masuk radar Timnas Indonesia itu pernah tersandung masalah besar usai melontarkan pernyataan kontroversial jelang laga Kanada kontra Kroasia di ajang empat tahunan tersebut.
Ucapan yang mengandung kata “F” di depan nama Kroasia memantik kemarahan publik Negeri Balkan. Kontroversi John Hartman di Piala Dunia 2022 bukan sekadar soal emosi sesaat, tetapi berujung pada dampak nyata di lapangan dan reputasi yang tercoreng.
Saat itu Kanada tergabung di Grup F bersama Belgia, Kroasia, dan Maroko. Banyak yang menyebut grup tersebut sebagai “grup neraka tersembunyi” karena kekuatan relatif merata. Kanada sendiri lolos ke Piala Dunia 2022 setelah 36 tahun absen, tampil impresif di kualifikasi zona CONCACAF dengan 28 poin.
Di balik kesuksesan itu, ada peran besar John Hartman. Pelatih asal Britania Raya tersebut dikenal sebagai komunikator ulung dan motivator yang mampu membangun kepercayaan diri skuadnya, termasuk pemain seperti Alphonso Davies dan Stephen Eustaquio.
Percikan Awal Kontroversi
Drama bermula usai Kanada kalah tipis 0-1 dari Belgia di laga pembuka. Meski kalah, performa Kanada cukup menjanjikan. Mereka bahkan mendapat penalti lewat Alphonso Davies, meski gagal dikonversi menjadi gol.
Namun dalam sesi wawancara pascalaga, Hartman mengeluarkan pernyataan yang dianggap melecehkan Kroasia. Ia menyebut timnya akan “pergi dan F Kroasia” di pertandingan berikutnya. Kata “F” yang merujuk pada umpatan dalam bahasa Inggris itu langsung menyulut kemarahan.
Media Kroasia bereaksi keras. Surat kabar 24 Sata bahkan menampilkan foto Hartman dengan ilustrasi provokatif disertai tajuk yang mempertanyakan nyalinya. Kontroversi John Hartman di Piala Dunia 2022 pun semakin meluas.
Hartman sempat mencoba meredam situasi dengan klarifikasi bahwa ucapannya tidak bermaksud menghina. Namun bara sudah terlanjur menyala.
Kroasia Membalas di Lapangan
Alih-alih membalas lewat media, Kroasia memilih menjawab di atas rumput hijau. Di Khalifa International Stadium, Kanada sempat unggul cepat lewat gol Alphonso Davies pada menit kedua.
Namun setelah itu, Kroasia tampil beringas. Luka Modric, Marcelo Brozovic, dan Mateo Kovacic menguasai lini tengah dengan permainan cepat dan cerdas. Decision making yang presisi membuat aliran bola Kroasia sulit dihentikan.
Andrej Kramaric mencetak dua gol, disusul tambahan dari pemain lainnya, hingga laga berakhir 4-1 untuk kemenangan Kroasia. Skor telak itu seakan menjadi jawaban atas komentar Hartman.
Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, bahkan tidak berjabat tangan usai laga. Ia menyindir soal sikap profesional dan rasa hormat. Kramaric pun menyampaikan komentar pedas dengan menyebut motivasi tambahan datang dari ucapan Hartman.
Kanada akhirnya tersingkir dari fase grup tanpa meraih satu poin, setelah juga kalah dari Maroko. Kontroversi John Hartman di Piala Dunia 2022 menjadi salah satu faktor yang disebut merusak fokus tim.
Bayang-Bayang Kasus Spionase
Masalah Hartman tak berhenti di Qatar. Namanya kembali mencuat dalam dugaan praktik spionase di tubuh Asosiasi Sepak Bola Kanada (CSA).
Investigasi mengungkap adanya praktik pemantauan latihan lawan menggunakan drone yang diduga berlangsung sejak 2016. Kasus itu mencuat saat Olimpiade Paris 2024, ketika staf Kanada tertangkap memata-matai sesi latihan tim wanita Selandia Baru.
Meski Hartman membantah terlibat langsung, laporan BBC pada Maret 2025 menyebut CSA menjatuhkan sanksi berupa surat teguran atas pelanggaran kode disiplin. Federasi tak merinci detail pelanggaran, tetapi bayang-bayang kasus tersebut menambah daftar kontroversi dalam kariernya.
Kini, ketika namanya dikaitkan dengan Timnas Indonesia, publik tentu tak hanya menyoroti rekam jejak taktik dan prestasinya. Kontroversi John Hartman di Piala Dunia 2022 dan isu disiplin menjadi pertimbangan serius.
Pertanyaannya, apakah pelatih dengan karakter vokal dan penuh kontroversi ini cocok menangani skuad Garuda yang sedang membangun stabilitas dan mentalitas baru?




