Keamanan Siber: Pentingnya Peran Manajemen Puncak dalam Menghadapi Ancaman Digital
Sumber Foto: HARIAN DISWAY
Puncak Berita

Keamanan Siber: Pentingnya Peran Manajemen Puncak dalam Menghadapi Ancaman Digital

Keamanan siber merupakan aspek krusial dalam melindungi komputer, jaringan, program, dan data dari akses, modifikasi, atau penghancuran yang tidak sah. Di tengah meningkatnya ancaman siber yang semakin canggih dan meluas, perlindungan terhadap informasi menjadi tidak hanya masalah teknis, tetapi juga sebuah isu governance yang melibatkan pengambilan keputusan, penanggung risiko, dan efektivitas kontrol yang diterapkan oleh organisasi.

Serangan Siber dan Dampaknya

Serangan siber dapat diartikan sebagai tindakan yang membahayakan sistem komputer, jaringan, dan organisasi yang bergantung pada teknologi. Dampak dari serangan ini sangat serius, termasuk pelanggaran data, pencurian identitas, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi. Oleh karena itu, pendekatan keamanan tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga pada deteksi dan respon yang cepat terhadap ancaman yang ada. Namun, sering kali kemampuan ini tidak tercapai bukan karena kurangnya alat, melainkan karena salah penilaian situasi oleh organisasi.

Statistik Serangan Siber di Indonesia

Menurut data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), dalam enam bulan pertama tahun 2025, tercatat sebanyak 3,64 miliar serangan siber di Indonesia, angka yang hampir setara dengan total serangan selama lima tahun terakhir. Dari total tersebut, sekitar 83,68 persen merupakan serangan berbasis malware, sementara sisanya terdiri dari unauthorized access dan serangan terhadap sistem.

Kasus PDNS dan Pentingnya Pemantauan

Contoh nyata dari dampak serangan siber terjadi pada Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) di Surabaya pada 20 Juni 2024. Di sini, gangguan layanan publik, termasuk di sektor imigrasi, terjadi setelah server yang berbasis di AS diserang ransomware. Insiden ini menunjukkan bahwa meskipun sistem tampak normal, tanpa pemantauan dan pengujian kontrol yang tepat, organisasi baru menyadari adanya masalah setelah layanan publik terganggu.

Ancaman False Negative dalam Keamanan Informasi

Salah satu ancaman paling berbahaya dalam keamanan informasi adalah kondisi false negative, di mana organisasi merasa aman padahal sebenarnya terancam. Hal ini sering kali disebabkan oleh ketidakterlibatan manajemen puncak, yang lebih memilih laporan yang menenangkan daripada kebenaran yang mungkin tidak nyaman. Dalam situasi ini, audit yang rapi dan dashboard yang menunjukkan status aman bisa menipu, jika hanya berdasarkan kepatuhan dokumen tanpa memperhatikan paparan risiko yang nyata.

Kesimpulan

Dengan meningkatnya jumlah serangan siber, penting bagi manajemen puncak untuk terlibat aktif dalam penilaian risiko dan pengambilan keputusan terkait keamanan informasi. Hanya dengan pendekatan holistik yang melibatkan semua tingkat organisasi, ancaman siber dapat dikelola dengan lebih efektif.