Hipdut: Gabungan Dangdut dan Hip-Hop yang Menggebrak Digital
Sumber Foto: Hypeabis
Hiburan

Hipdut: Gabungan Dangdut dan Hip-Hop yang Menggebrak Digital

Dangdut bertemu hip-hop, lalu meledak di ruang digital. Hipdut muncul sebagai suara baru anak muda Indonesia, dipopulerkan lewat lagu viral Garam dan Madu (Sakit Dadaku) yang mendominasi TikTok dan YouTube, sekaligus menandai lahirnya genre dan subkultur musik urban yang memadukan tradisi lokal dengan energi global.

Hipdut atau hip-hop dangdut merupakan genre musik baru di Indonesia yang memadukan elemen dangdut tradisional dengan hip-hop modern, seringkali ditambah dengan beat koplo untuk menciptakan nuansa energik dan urban.

Baca juga: 6 Lagu Terbaik NDX A.K.A, Grup Dangdut Hiphop dengan Karya-karya Viral

Pada kenyataannya, genre hipdut mulai menemukan bentuknya sejak pasca-2010, ketika grup NDX AKA memadukan rap berbahasa Jawa dengan tabuhan gendang, suling, serta irama dangdut elektronik dalam lagu-lagu bernuansa campursari koplo.

Di luar NDX AKA, Via Vallen dan Nella Kharisma turut mendorong perkembangan tren ini melalui lagu-lagu seperti Bojo Galak yang menyisipkan elemen rap hip-hop ke dalam dangdut tradisional, hingga melahirkan basis penggemar fanatik di kalangan anak muda Jawa.

Memasuki periode setelah 2010, sub genre baru kembali diperkenalkan oleh band White Chorus melalui istilah “hyperdangdut”, sebuah eksplorasi yang memadukan unsur hiper pop dan dangdut untuk merespons dinamika skena urban.

Secara musikal, hipdut menggunakan formula yang cerdas dengan menggantikan kendang dangdut dengan beat elektronik yang di sampling, lalu memadukan dengan elemen hip-hop seperti drum beat dan keyboard sederhana. Selain beat, lirik dari musik genre hipdut juga berbeda dengan musik genre lain.

Banyak lagu hipdut menggunakan campuran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah (terutama Jawa) hingga menciptakan identitas linguistik yang unik dan relatable bagi anak muda Indonesia yang tumbuh di era globalisasi.

Tema liriknya pun lebih berani dan ekspresif, hipdut biasanya membahas realitas kehidupan anak muda seperti cinta, dilema, menunjukan emosi dengan cara yang sangat ekspresif.

Ledakan Garam dan Madu (Sakit Dadaku) menjadi titik balik bagi hipdut. Melodi yang sangat catchy dan mudah diingat. Selain itu, lirik yang sangat relatable bagi Gen Z yang sering mengalami dilema cinta. Metafora “garam” yang melambangkan kepahitan sang “madu” yang melambangkan kemanisan menciptakan narasi yang kuat dan mudah dipahami.

Salah satu aspek paling menarik dari fenomena ledakan hipdut adalah lahirnya subkultur yang baru. Penggemar hipdut tidak hanya mendengarkan musiknya, tetapi mengadopsi gaya hidup dan fashion yang menjadi identitas mereka.

Ciri khas fashion hipdut memiliki karakteristik rambut yang terlihat berantakan atau messy hair, celana baggy, kupluk atau beanie yang dipakai santai, sneakers yang kekinian, dan aksesori seperti kalung rantai atau kacamata hitam yang memberikan kesan edgy, tetapi tetap approachable.

Gaya ini merupakan sebuah evolusi dari streetwear culture yang sudah berkembang di Indonesia sejak lama, tetapi dengan sentuhan yang lebih lokal dan authentic.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)