Rupiah Melemah ke Rp16.933, Dipengaruhi Data Ekonomi AS dan Suku Bunga
waktu baca 2 menit
ekonomi AS yang lebih resilien yang menyebabkan berkurangnya ekspektasi pemotongan suku bunga agresif tahun ini
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah 49 poin atau 0,29 persen menjadi Rp16.933 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.884 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pemotongan suku bunga AS berkurang.
“Serangkaian indikator ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan. Rilis data menunjukkan ekonomi AS yang lebih resilien yang menyebabkan berkurangnya ekspektasi pemotongan suku bunga agresif tahun ini,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Tercatat, US Durable Goods Orders mengalami kontraksi sebesar 1,4 persen month to month (MoM) pada Desember 2025, setelah peningkatan 5,4 persen mom pada November 2025. Namun, penurunan tersebut lebih ringan dibandingkan ekspektasi konsensus kontraksi sebesar 2 persen mom.
Di sektor properti, US Housing Starts mencapai 1,32 juta pada November 2025 dan 1,4 juta pada Desember 2025. Kedua data tersebut melebihi ekspektasi pasar masing-masing sebesar 1,31 juta dan 1,30 juta, menunjukkan permintaan perumahan yang solid.
Untuk sektor manufaktur, lanjutnya, produksi Industri AS naik menjadi 0,7 persen mom pada Januari 2026 dari 0,2 persen mom sebelumnya, melampaui ekspektasi sebesar 0,4 persen mom.
Pelaku pasar turut menunggu rilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026 untuk panduan lebih lanjut tentang arah kebijakan suku bunga The Fed.
“Selain data yang lebih kuat, notulen rapat FOMC The Fed tanggal Januari 2026 mengungkapkan bahwa beberapa anggota tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga kebijakan,” ungkap Josua.
Sentimen pasar juga dipengaruhi peningkatan ketegangan geopolitik, khususnya seputar perkembangan negosiasi nuklir antara AS dan Iran, yang memicu sentimen risk-off di kalangan investor.
Secara domestik, kata dia, investor tetap berhati-hati menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) tentang suku bunga BI.
“Kami memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen,” ujar dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp16.875–Rp16.975 per dolar AS.
Baca juga: Arus modal volatile, ekonom kompak prediksi BI-Rate tetap 4,75 persen
Baca juga: BI: Cadangan devisa Januari 2026 turun efek utang dan stabilkan rupiah
Baca juga: BI jaga stabilitas rupiah agar yield dan aset rupiah tetap menarik
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




