Trump Tantang Putusan MA, Perang Dagang Global Kembali Menghangat
Sumber Foto: Inilah.com
Hukum

Trump Tantang Putusan MA, Perang Dagang Global Kembali Menghangat

Drama 'adu urat' antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Mahkamah Agung (MA) setempat memicu alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi global. Meski MA AS telah membatalkan kebijakan tarif impor Trump karena dinilai inkonstitusional, langkah balasan sang presiden yang justru meneken 'tarif global' baru sebesar 10 persen disebut bakal menyeret dunia ke dalam ketidakpastian yang lebih gelap.

Pakar ekonomi China memperingatkan bahwa aksi nekat Trump ini merupakan pembukaan babak baru perang dagang yang jauh lebih kompleks. Hal ini dilaporkan oleh Global Times, media yang berafiliasi dengan Partai Komunis China, pada Sabtu (21/2/2026).

Sinyal Semu di Tengah Ketegangan

Awalnya, Beijing sempat bernapas lega. Pemerintah China menyebut putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan tarif Trump ilegal sebagai 'sinyal yang menggembirakan bagi dunia'. Pasalnya, MA menilai Trump telah melampaui wewenangnya saat menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (International Emergency Economic Powers Act/IEEPA).

Namun, kegembiraan itu hanya seumur jagung. Sang pakar memperingatkan bahwa kemelut ini jauh dari kata selesai. Trump tampaknya tidak akan mundur selangkah pun dan bakal mencari celah hukum apa pun guna mempertahankan kebijakan proteksionismenya.

"Persoalan tarif ini akan tetap kompleks. Kecil kemungkinan terselesaikan dalam jangka pendek karena pemerintah AS berupaya melanjutkan langkah tarif dengan cara apa pun yang bisa mereka temukan," tulis laporan tersebut.

Korsel Siaga Satu, Pasar Global Terguncang

Efek domino dari kebijakan 'koboi' Trump ini langsung terasa hingga ke Seoul. Kantor Kepresidenan Korea Selatan (Korsel) dilaporkan langsung menggelar rapat darurat guna merespons manuver terbaru dari Ruang Oval tersebut.

Bagi Korsel, tambahan bea masuk 10 persen bukan sekadar angka, melainkan ancaman nyata bagi ekspor nasional mereka. "Ketidakpastian dalam lingkungan perdagangan telah meningkat tajam," tegas juru bicara kantor kepresidenan Korsel.

Saat ini, pihak Seoul tengah berupaya melakukan lobi-lobi intensif dan konsultasi dengan Washington. Tujuannya jelas: memastikan kesepakatan dagang AS-Korsel yang sudah ada tidak hancur lebur akibat ambisi tarif sepihak dari Trump.

Menanti Aksi Balasan Global

Tak hanya China dan Korsel, negara-negara mitra dagang AS lainnya kini berada dalam posisi siaga satu. Mereka cenderung mengambil sikap hati-hati sembari menghitung potensi kerugian ekonomi yang mungkin timbul.

Aksi Trump yang terang-terangan mengabaikan putusan hukum tertinggi di negaranya sendiri demi ego ekonomi diprediksi akan memicu aksi balasan (retaliation) dari berbagai belahan dunia.

Jika ini terjadi, tatanan perdagangan global yang sudah rapuh terancam masuk ke dalam labirin krisis yang sulit dicari pintu keluarnya.