Perdagangan Bayi Terselubung Dalam Praktik Adopsi
Sumber Foto: Kompas.tv
Ekonomi

Perdagangan Bayi Terselubung Dalam Praktik Adopsi

Prime Time News - JAKARTA, KOMPAS.TV - Kriminolog Haniva Hasna memberikan pandangannya mengenai jual beli bayi berkedok adopsi.

Menurutnya, kasus seperti ini terjadi berulang karena adanya supply and demand (penawaran dan permintaan).

"Perdagangan secara masif ini tidak akan terjadi kalau tidak ada market yang membutuhkan, yang menerima anak-anak ini," kata dia dalam program Kompas Malam KompasTV, Rabu (25/2/2026).

Ia mengatakan penawaran dan permintaan itu terbentuk antara keluarga yang rentan kondisi ekonomi atau pengasuhannya, kemudian ada pihak lain yang bisa menerima dengan alasan membantu.

"Jadi, alasan membantu ini dilegalkan oleh mereka. Apalagi dengan kata-kata adopsi. Kata-kata adopsi itu bisa jadi sebagai moral kamuflase yang diterima oleh masyarakat. Padahal itu adalah kejahatan terselubung," ujarnya.

Menurutnya, kata "adopsi" sudah diterima oleh masyarakat. Lantas, kata dia, masyarakat kemudian menormalisasi perdagangan bayi dengan alasan untuk membuat bayi-bayi tersebut menjadi punya kehidupan yang lebih baik.

"Jadi, karena ada pasarnya dan ada ekosistemnya, maka kondisi-kondisi ini akan tetap terus terjadi," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, polisi membekuk HA (31), tersangka kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) saat akan menjual seorang bayi berusia tiga hari di Sumatera Selatan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya di Palembang, Selasa (24/2/2026), menjelaskan, tersangka ditangkap di kawasan Sukarami pada Minggu (22/2/2026).

Penangkapan dilakukan oleh tim Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polda Sumsel.

Dalam kasus tersebut, seorang bayi perempuan yang baru berusia tiga hari diduga akan diperjualbelikan seharga Rp52 juta.