Peran Orang Tua dalam Pendampingan Pendidikan Digital di Dlingo
Sumber Foto: Kompasiana.com
Teknologi

Peran Orang Tua dalam Pendampingan Pendidikan Digital di Dlingo

Refleksi Pribadi tentang Transformasi Digital Madrasah dan Peran Orang Tua (Seri 3)

Oleh: Drajad Hadi Wibowo

Perbincangan tentang pendidikan di era digital sering kali terfokus pada teknologi, aplikasi, dan kecanggihan sistem pembelajaran. Padahal, di balik layar gawai anak-anak, ada faktor yang jauh lebih menentukan: keluarga dan pendampingan orang tua.

MTs Negeri 8 Bantul berada di kawasan perbukitan pinus desa Muntuk, kecamatan Dlingo, kabupaten Bantul, Yogyakarta jauh dari pusat keramaian kota. Peserta didiknya datang dari latar belakang keluarga yang beragam, dengan mayoritas orang tua berlatar pendidikan SMP dan SMA, bekerja sebagai buruh, petani, tukang, atau wiraswasta kecil. Secara ekonomi, sebagian besar berada pada kategori menengah ke bawah. Namun ada satu kesamaan yang patut diapresiasi: hampir semua orang tua berupaya menyediakan fasilitas belajar, termasuk gawai dan akses internet.

Masalahnya, ketersediaan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan mendampingi.

Banyak orang tua merasa cukup ketika anak memiliki ponsel dan kuota. Urusan isi, waktu, dan arah penggunaan sering kali diserahkan sepenuhnya kepada anak. Bukan karena abai, tetapi karena keterbatasan pengetahuan dan kesibukan bekerja. Di sinilah risiko era digital mengintai: anak tampak padahal perlahan tenggelam dalam distraksi.

Padahal, pendampingan orang tua tidak harus identik dengan kemampuan teknologi yang tinggi. Yang dibutuhkan justru kehadiran, ketegasan, dan prinsip. Menanyakan apa yang dipelajari anak hari ini, membatasi waktu layar, mengaitkan teknologi dengan tujuan hidup, serta menanamkan nilai adab dan agama dalam keseharian itulah bentuk pendampingan sederhana namun bermakna.

Lingkungan sosial budaya Dlingo, kabupaten Bantul-Yogyakarta khususnya tempat madrasah berada yaitu dusun banjarharjo 2, Muntuk sesungguhnya menyimpan modal besar. Tradisi, unggah-ungguh, gotong royong, dan nilai Islam masih hidup dan dipraktikkan. Tantangannya adalah memastikan nilai-nilai lokal itu tidak kalah oleh arus konten digital yang sering kali bebas nilai dan minim teladan.

Anak-anak MTsN 8 Bantul berada pada fase usia 12-15 tahun, fase pencarian jati diri. Data menunjukkan mayoritas dari mereka memiliki orientasi kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, SMK, atau MA. Mereka ingin keluar dari keterbatasan, memperbaiki masa depan, bahkan mengangkat derajat orang tua. Namun mimpi itu membutuhkan pengawalan yang konsisten.

Orang tua perlu berani mendorong anak keluar dari zona nyaman digital (zona rebahan, hiburan instan, dan kepuasan sesaat) menuju zona belajar, berlatih, dan berjuang. Madrasah telah berupaya menjembatani hal ini melalui penguatan keterampilan dan ekstrakurikuler, agar anak memiliki bekal hidup nyata, bukan hanya nilai rapor.

Pada akhirnya, pendidikan di era digital bukan hanya soal kecakapan teknologi, tetapi ketangguhan karakter. Anak yang tumbuh dengan pendampingan orang tua yang tegas, bernilai, dan penuh harapan akan lebih siap menghadapi tantangan zaman.