Peran Ibu dalam Mendidik Anak di Era Digital
Lumajang, InfoPublik – Perkembangan teknologi digital yang melaju pesat membawa perubahan besar dalam pola kehidupan keluarga modern. Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya penggunaan gawai, peran ibu semakin strategis sebagai penjaga keseimbangan keluarga sekaligus benteng utama dalam membimbing anak menghadapi dunia digital secara bijak dan beretika.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Lumajang, Dewi Nathalia Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa ibu tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik pertama yang berhadapan langsung dengan tantangan era digital. Kemampuan ibu memahami teknologi, menurutnya, menjadi kunci utama agar pendampingan terhadap anak berjalan efektif dan bermakna.
Ia menekankan bahwa literasi digital bagi ibu merupakan kebutuhan mendesak, agar keluarga tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab.
“Ibu perlu melek teknologi agar dapat mengarahkan anak menggunakan gawai dan media sosial untuk hal-hal positif, seperti belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi diri,” ujar Dewi Nathalia dalam Talkshow Jelita di LPPL Radio Suara Lumajang, Selasa (23/12/2025).
Dewi Nathalia menjelaskan, pendampingan yang tepat akan menjadikan teknologi sebagai sarana pendukung tumbuh kembang anak, bukan sebagai ancaman. Ia menegaskan bahwa peran ibu sangat penting dalam mengawasi, membimbing, sekaligus menjadi teladan bagi anak dalam penggunaan teknologi sehari-hari.
Selain itu, penanaman nilai moral dan etika digital juga menjadi aspek yang tidak kalah penting. Menurutnya, sikap santun dalam berkomunikasi, menghargai privasi orang lain, serta kemampuan menyaring informasi menjadi bekal penting agar anak tidak terjerumus pada dampak negatif dunia maya.
“Nilai-nilai tersebut penting untuk mencegah risiko seperti kecanduan gawai, perundungan siber, hingga penyebaran informasi palsu,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Dewi Nathalia juga menyoroti pentingnya komunikasi hangat dan terbuka antara ibu dan anak. Menurutnya, dialog persuasif dan humanis akan menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan, sehingga anak tidak ragu berbagi pengalaman atau masalah yang mereka hadapi di dunia digital.
Pendekatan yang humanis, katanya, jauh lebih efektif dibandingkan larangan semata. Dengan memahami minat dan kebutuhan anak, ibu dapat menjadi sahabat sekaligus pembimbing yang dipercaya dalam setiap fase pertumbuhan.
Lebih lanjut, Dewi Nathalia mengapresiasi peran pemerintah dan berbagai lembaga yang terus mendorong penguatan literasi digital bagi kaum ibu melalui pelatihan dan edukasi berkelanjutan. Upaya tersebut dinilai penting untuk membekali ibu dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat.
“Keberhasilan ibu dalam menjalankan peran ini akan sangat menentukan kualitas generasi masa depan, sekaligus menciptakan keluarga yang tangguh, harmonis, dan berdaya saing di tengah kemajuan teknologi,” pungkasnya.




