Nostalgia sebagai Alat Kritik Sosial dalam Budaya Pop Kontemporer
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hiburan

Nostalgia sebagai Alat Kritik Sosial dalam Budaya Pop Kontemporer

Sebagai generasi muda di era perkembangan teknologi yang serba cepat di tengah ribuan informasi dan segala realita global yang dinamis, kami menyadari suatu hal yang menarik dalam konsumsi budaya saat ini: Pop Culture tampaknya sedang kembali pada masa lalu. Mulai dari gaya berpakaian retro, musik analog, hingga estetika dan latar belakang serial-serial di platform streaming. Kami juga menyaksikan banyak remaja di TikTok yang meniru gaya potongan rambut ala tahun 80-an, yang dipengaruhi oleh serial-serial, seperti Stranger Things, Sex Education dan Daisy Jones and The Six yang menggunakan tahun 70-90an sebagai latar tema mereka. Namun menurut kami, fenomena ini terlihat lebih dari sekedar tren fashion atau keinginan untuk terlihat "keren". Melainkan, ada makna lebih mendalam seolah mereka menggunakan masa lalu sebagai refleksi dari kejadian yang terjadi saat ini.

Lalu timbullah pertanyaan dari kami sebagai generasi muda , bagaimana jika nostalgia ini bukan hanya merupakan perihal dari sudut pandang estetika, melainkan merupakan potensi atas perlawanan budaya terhadap kondisi sosial saat ini?

Tulisan berikut bertujan untuk mengeksplorasi nostalgia sebagai alat budaya dan alat kritik sosial. Dengan pendekatan komparatif yang membandingkan dari beberapa karya populer lintas budaya dan media, kami ingin menunjukan bahwa nostalgia dalam contemporary pop culture, bukanlah pelarian dari segala hal yang bersifat pasif, melainkan sebagai media ruang naratif yang aman dan memungkinkan kita untuk untuk merefleksikan trauma dan kegelisahan sosial yang terjadi saat ini yang dimulai dari krisis identitas, hingga ketidakadilan gender dan teknologi.

Salah satu contoh paling mencolok adalah Stranger Things (Netflix, 2016--kini). Serial ini tidak hanya memanjakan mata dengan visual 80-an seperti sepeda BMX, arcade, jaket dan varsity, Stranger Things juga menyelipkan narasi kelam tentang eksperimen pemerintah, disfungsi keluarga, dan trauma masa kecil. Bagi kami, serial ini seperti two sides of the same coin: satu sisi merayakan kehangatan komunitas masa lalu dan sisi lainnya menyimpan horor sebagai metafora atas ketakutan modern seperti militerisme, isolasi anak-anak, dan kerapuhan sistem pendidikan.

Pendekatan yang serupa terlihat juga dalam Sex Education (Netflix, 2019--2024) meskipun ber-setting modern, gaya visual dalam serial ini menganut gaya 80/90an. Sekolah yang bergaya retro, fashion yang lawas, dan penggunaan musik klasik memberi nuansa masa lalu. Namun isi narasinya justru cukup progresif mencakup isu seksualitas, kesehatan mental, dan keluarga non-tradisional dieksplorasi dengan gaya yang terbuka. Kami melihat ini sebagai bentuk ironi yang cerdas dan unik, seolah serial ini berkata, "Bayangkan jika masa lalu seberani ini dalam membicarakan isu-isu penting." Dengan demikian, nostalgia dalam dua serial ini bukan hanya menampilkan visual, melainkan strategi puitik untuk menyampaikan hal-hal yang terlalu berat jika langsung dibicarakan dalam konteks kontemporer.

Nostalgia juga menjadi ruang resistensi gender. Daisy Jones & The Six (Amazon Prime, 2023), dengan latar era 70an dan gaya dokumenter bohemian, membawa kita ke dunia rock and roll yang maskulin. Namun alih-alih mengglorifikasi era itu, serial ini justru membuka luka tentang bagaimana artis perempuan dipaksa tampil kuat di industri yang meromantisasi kehancuran pria. Sebagai penonton perempuan, kami merasa narasi ini sangat jujur dan berani. Ini bukan sekadar "nostalgia musik", melainkan upaya merebut kembali sejarah dari perspektif yang selama ini diremehkan. Di sini, masa lalu tidak dipuja, melainkan dikoreksi.

Hal serupa juga tampak dalam Sex Education, terutama dalam representasi queer dan perempuan muda. Dikemas dengan gaya retro, serial ini membongkar struktur nilai lama yaitu bagaimana tabu-tabu seksualitas dan identitas terus diwariskan, dan bagaimana kita harus berani menantangnya.

Menariknya, tren ini tidak hanya muncul di negara barat tetapi juga terdapat dalam drama Korea Reply 1988. Kami mendapati pendekatan nostalgia yang lebih emosional, yaitu visual bernuansa retro dan musik tahun 80an digunakan untuk membingkai cerita keluarga dan komunitas di tengah transisi ekonomi korea yang kritis saat itu. Tidak ada monster yang menakutkan atau tragedi besar dan bencana, film ini hanya menggambarkan kehidupan sehari-hari yang perlahan bergerak dinamis.Letak keunggulan dari film tersebut terdapat pada penggambaran nostalgia dimana penonton diajak sa untuk meresapi nilai kekeluargaan dan kerinduan akan masa ketika segalanya terasa lebih dekat ketika teknologi belum canggih seperti sekarang . Jika di Amerika nostalgia digunakan sebagai alat ironi dan akat untuk mengkritik sistem, maka di Korea nostalgia adalah cara untuk menyembuhkan luka kolektif dan merayakan nilai-nilai yang mulai hilang. Menurut kami, ini merupakan pembuktian jika nostalgia bersifat lintas budaya, tetapi tetap memiliki makna yang sama danbergantung pada konteks sosial yang dihadapi masing-masing masyarakat.

Dari berbagai contoh di atas, kami menyimpulkan bahwa nostalgia dalam pop culture saat ini bukan sekadar tren estetik yang dimodifikasi dari masa lalu. Mereka merupakan strategi kebudayaan yang berupa alat untuk mendiskusikan tentang hal-hal yang penting, membingkai isu isu krisis zaman sekarang, dan merespon atas perubahan-perubahan yang terjadi di dunia. Kami, sebagai generasi muda yang tumbuh di tengah era perubahan teknologi yang cepat, mengakui bahwa strategi kebudayaan seperti ini sangatlah relevan . Mereka mendorong kami untuk berpendapat dan menyadari terhadap keadaan sekarang melalui pendekatan refleksi dari masa lalu untuk merenungkan: apa yang salah dengan zaman sekarang?

Melalui Stranger Things, Daisy Jones & The Six, Sex Education, hingga Reply 1988, refleksi untuk melihat ke masa lalu membuktikan jika berguna sebagai bentuk simbol resistensi dan bukan untuk pelarian kembali ke masa lalu. Pop culture sedang menegur kita dengan mengingatkan menggunakan pendekatan bahasa yang familiar dan untuk mengajak kita merenung, mengkritik, dan memperbaiki.