Menghargai Waktu: Kunci Kehidupan yang Berarti
Sumber Foto: RRI.co.id
Waktu Utama

Menghargai Waktu: Kunci Kehidupan yang Berarti

Samarinda

Oleh - Ira Runinta,

Editor - Marga Rahayu

KBRN, Samarinda: Waktu merupakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan. Namun, di tengah kesibukan dan euforia pergantian tahun yang kerap dirayakan secara seremonial, kesadaran akan nilai waktu sering kali terabaikan, padahal setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Rahmatullah, dalam Program *Hikmah Pagi* Pro 4 RRI Samarinda. Ia mengajak pendengar untuk mensyukuri nikmat usia dan kesehatan yang masih diberikan hingga memasuki tahun baru 2026. “Salah satu nikmat terbesar yang sering dilupakan manusia adalah waktu,” ujarnya kepada rri.co.id dikutip Jumat (2/1/2026).

Menurut Ustaz Rahmatullah, banyak orang merasa waktu berjalan semakin cepat seiring bertambahnya usia. Namun, hal itu bukan karena jumlah hari yang berkurang, melainkan karena waktu tidak diisi dengan amal dan aktivitas yang bernilai. “Waktu terasa singkat karena sering dihabiskan untuk hal-hal yang tidak membawa kebaikan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki jatah waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Perbedaan kualitas hidup, kata dia, terletak pada cara memanfaatkan waktu tersebut. “Dari pengelolaan waktu, akan terlihat siapa yang produktif dan siapa yang lalai, siapa yang berhasil dan siapa yang merugi,” ucapnya.

Dalam ceramahnya, Ustaz Rahmatullah juga mengutip pandangan para ulama yang membagi manusia dalam menyikapi waktu. “Ada yang terjebak pada masa lalu, ada yang terlalu memuja masa depan tanpa belajar dari sejarah, dan ada pula yang hanya hidup untuk hari ini,” katanya.

Menurutnya, sikap ideal adalah menyeimbangkan ketiganya. “Belajarlah dari masa lalu, jalani hari ini dengan sebaik-baiknya, dan rencanakan masa depan dengan tanggung jawab. Dengan cara itulah waktu menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sumber penyesalan,” kata Ustaz Rahmatullah.