Film 'Siapa Dia' Luncurkan Sejarah Budaya Pop Indonesia
Sumber Foto: Hypeabis
Hiburan

Film 'Siapa Dia' Luncurkan Sejarah Budaya Pop Indonesia

Setelah penantian panjang, film terbaru sutradara kawakan Garin Nugroho berjudul Siapa Dia akhirnya akan segera bertemu dengan penontonnya. Film produksi Fabis Entertainment ini direncanakan mulai beredar di layar lebar mulai 28 Agustus 2025.

Butuh perjalanan yang tak sebentar untuk merilis film Siapa Dia. Proyek film ini sebenarnya pertama kali diperkenalkan ke publik oleh Garin pada November 2024. Saat itu, usai menerima Piala Citra atas film Samsara, sutradara asal Yogyakarta itu mengumumkan dirinya tengah menggarap film terbaru berjudul Siapa Dia dengan konsep musikal.

Baca juga: Garin Nugroho Perkenalkan Proyek Spirit of Kantil di Cannes Market 2025

Kendati demikian, proses produksi sebenarnya telah berlangsung lebih lama lagi. Eksekutif produser Faizal Lubis mengatakan meski telah diungkap oleh Garin pada November 2024 lalu, film Siapa Dia sejatinya mulai digarap sejak 2022.

Setelah hampir tiga tahun, Faizal bersyukur akhirnya penggarapan film yang punya proses panjang ini siap dirilis ke publik. Lebih senang lagi, katanya, film ini rilis pada bulan Agustus 2025.

"Film ini sengaja kita buat dan rilis pada Agustus sebagai persembahan kado untuk negara yang berulang tahun ke-80. Ini kado dari para seniman Indonesia sekaligus legenda hidup kita, Garin Nugroho, untuk sejarah Indonesia," ungkap Faizal.

Faizal mengatakan film Siapa Dia dibuat sebagai upaya untuk merefleksikan apa saja hal yang telah terjadi di belakang sekaligus menerka apa yang mungkin terjadi di masa depan. Film ini, katanya, bisa dibilang seluruhnya berisi tentang sejarah budaya pop di Indonesia yang bertumbuh, berkembang, terdiam, dan terus selalu berusaha bangkit.

"Semua yang terjadi adalah sejarah, catatan kaki yang tidak akan pernah hilang," imbuhnya.

Dalam film ini, penonton akan diajak menelusuri bagaimana film Indonesia bisa sampai ke titik saat ini. Namun, tak sekadar film, Siapa Dia mencoba menarik budaya layar ke hal yang lebih jauh. Sebelum film menjadi budaya pop yang digemari, jauh-jauh hari sudah ada banyak bentuk lain, termasuk yang memulai di Indonesia ialah Komedi Stamboel saat masa penjajahan.

Dalam perjalanan tersebut, tak bisa dimungkiri budaya pop dan situasi kekuasaan tak bisa dilepaskan. Keduanya saling memengaruhi dan dipengaruhi. Film ini, kata Faizal, mencoba menyajikan fakta-fakta sejarah yang melingkupinya dan meramunya menjadi sajian film musikal yang seru untuk diikuti.

"Saya tahu, perspektif orang dalam menonton akan bermacam-macam. Apa yang terjadi di film ini, itulah yang terjadi sebenarnya. Kita tidak ada tendensi ke pemerintah, kalau pun mirip, kebetulan mirip. Film ini diproduksi sejak 2022," katanya.

Faizal menuturkan bahwa meski mengangkat tema sejarah, film yang merangkai budaya pop dari Komedi Stamboel hingga layar bioskop bakal tetap menarik. Menurutnya, Garin Nugroho berhasil meramu cerita dengan menghadirkan cinta sebagai benang merah yang menyatukan kisah.

Setiap babaknya akan menampilkan pendekatan cinta yang berbeda sesuai zamannya, di era 40-an misalnya orang bergelut dengan cinta yang berpadu dengan todongan senjata, pada dekade 60–70 cinta muncul lewat gaya anak geng, sementara kini cukup melalui pesan WhatsApp. Hal menariknya tema cinta memang selalu muncul dalam setiap sejarah film Indonesia, meski dengan bentuk yang berbeda-beda.

Faizal mengakui penonton mungkin merasa alur film ini agak rumit di awal. Namun, dia membandingkannya dengan cinta yang juga kerap terasa sulit, penuh rasa takut ditolak, hingga akhirnya dapat dipahami seiring proses. Film ini, katanya, adalah sebuah perjalanan seni yang baru benar-benar bisa dinikmati setelah penonton larut ke dalamnya.

"Film ini akan penuh cinta, cinta terhadap kekasih, cinta kepada musik, dan cinta terhadap kekayaan budaya kita," jelasnya.

Sementara itu, Produser Oskar Sagita berharap film ini bisa memberikan penonton pengayaan tentang budaya menonton di Indonesia yang terus bertumbuh dan dinamis. Budaya menonton, katanya, yang dinikmati oleh perfilman Indonesia tidak lahir dari ruang yang hampa.

Sebab, sebelum film, ada banyak budaya pop lain yang tumbuh dan pada satu titik saling menguatkan satu sama lain. Dia berharap film ini menjadi alternatif pendidikan sejarah budaya film yang menarik.

"Harapan saya, semoga ke depan film bisa terus memberikan penghidupan sekaligus menghidupi bangsa," tegasnya.

Siapa Dia mengisahkan seorang pemuda bernama Layar (Nicholas Saputra) yang bercita-cita membuat film musikal. Untuk mencari inspirasi, ia pulang ke rumah buyutnya di sebuah kota kecil dan menemukan sebuah koper berisi surat serta catatan cinta dari buyut, kakek, hingga ayahnya.

Bersama dua sahabatnya, Denok dan Rintik, Layar mencoba menghidupkan kisah-kisah cinta dalam koper tersebut sebagai dasar penciptaan film musikal. Perjalanan itu kemudian menyeretnya ke dalam pengalaman emosional, seolah dia ikut masuk ke dalam romansa dan tragedi yang pernah dialami para leluhurnya.

Cerita bergulir dengan tarian dan nyanyian indah yang merentang dari era kolonial hingga masa kini, seolah Layar tengah merefleksikan sejarah film Indonesia. Tanpa disangka, hubungan Layar dengan Denok dan Rintik pun berkembang menjadi kisah cinta tersendiri, layaknya adegan dalam film.

Pada akhirnya, karya ini hadir sebagai rangkaian melodrama penuh cinta yang diwariskan lintas generasi dalam keluarga Layar. Film ini akan dibintangi oleh aktor papan atas, seperti Nicholas Saputra sebagai Layar, Amanda Rawles sebagai Rintik, Ariel Tatum sebagai Anna, Widi Mulia sebagai Denok, Cindy Nirmala sebagai Indah, Gisella Anastasia sebagai Mui, Morgan Oey sebagai Samo (& Ong).

Kemudian, Joanna Alexandra sebagai Maria, Monita Tahalea sebagai Nurlela, Happy Salma sebagai Juwita, Dira Sugandi sebagai Sari, Sita Nursanti sebagai Mba Kenes, dan masih banyak lagi pemain lain.