Defisit Perdagangan Barang AS Mencapai Rekor Tertinggi di 2025
waktu baca 2 menit
New York (ANTARA) - Amerika Serikat (AS) mencatatkan defisit perdagangan barang sebesar 1,24 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp16.925) pada 2025, naik 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, demikian menurut data yang dirilis pada Kamis (19/2) oleh Biro Analisis Ekonomi (Bureau of Economic Analysis) AS.
Statistik menunjukkan bahwa ekspor dan impor tahunan barang AS mencapai 2,19 triliun dolar AS dan 3,43 triliun dolar AS pada 2025.
Di antara para mitra dagang utama, defisit perdagangan barang AS dengan Uni Eropa (UE) turun sebesar 17,12 miliar dolar AS secara tahunan (year on year /yoy). Sementara, defisit perdagangan AS dengan Meksiko dan Vietnam masing-masing naik sebesar 25,42 miliar dolar AS dan 54,73 miliar dolar AS (yoy).
Data tersebut memaparkan bahwa AS memiliki surplus perdagangan jasa sebesar 339,47 miliar dolar AS pada 2025, naik 27,6 miliar dolar AS atau 8,85 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Defisit pada 2025 menunjukkan betapa kecilnya dampak tarif, untuk saat ini, terhadap tingkat defisit secara keseluruhan, sementara hal itu mendistorsi arus perdagangan bulanan lantaran bisnis Amerika beradaptasi dengan perubahan tarif," kata Kepala Ekonom di Raymond James Eugenio Aleman seperti dikutip oleh MarketWatch.
Wakil Presiden Kebijakan Pajak Federal di Tax Foundation Erica York menyampaikan tarif tersebut secara signifikan mengganggu perdagangan, dan tingkat tarif efektif di AS mencapai 7,7 persen pada 2025, tingkat tertinggi sejak 1947.
"Meski terjadi gangguan dalam waktu dan pola, keseimbangan perdagangan secara keseluruhan tidak berubah secara fundamental. Kita juga tidak seharusnya mengharapkan hal itu berubah di masa mendatang," ujar York pada Kamis (19/2) di platform X.
Pemerintahan Trump mengklaim tarif akan membantu mengembalikan lapangan pekerjaan di sektor manufaktur dan mengurangi defisit perdagangan AS saat pihaknya memberlakukan tarif tambahan terhadap sebagian besar mitra dagangnya pada 2025.
Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




