Cosplay: Ekspresi Kreatif dalam Festival Budaya Pop
Sumber Foto: Tempo.co
Hiburan

Cosplay: Ekspresi Kreatif dalam Festival Budaya Pop

Ringkasan Berita

Cosplay atau permainan kostum merupakan kegiatan memerankan karakter fiksi lewat kostum, riasan, dan gerak-gerik.

Muncul di Jepang pada 1980-an dan masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an.

Festival budaya pop menjadi ruang aman bagi cosplayer dalam mengekspresikan diri mereka.

ULIT mencari padanan istilah ini dalam bahasa Indonesia: cosplay. Secara harfiah, kata itu merupakan singkatan dari bahasa Inggris costume play atau permainan kostum. Cosplay bisa diartikan sebagai kegiatan meniru dan memerankan karakter dari karya fiksi, baik itu anime, manga, game, film, maupun komik. Tidak hanya kostum, tapi juga riasan dan gerak-geriknya.

Cosplay menyediakan ruang untuk banyak hal. Dari berkarya, menjahit kostum, merias wajah, membuat pernak-pernik, menyalurkan ekspresi dan identifikasi diri dengan menjadi tokoh fiksi, sampai menjalin pertemanan lewat komunitas.

Budaya fan mengenakan kostum karakter favorit muncul di Jepang pada 1970-an dan mulai dikenal sebagai cosplay sejak 1980-an. Hobi ini mulai dikenal di Indonesia pada akhir 1990-an, seiring dengan meningkatnya popularitas komik Jepang atau manga dan film kartun Jepang atau anime. Sekelompok mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia—dulu Fakultas Sastra UI—menangkap animo tersebut dan mengadakan festival budaya yang dinamai Gelar Jepang UI. Acara serupa kemudian bermunculan di kota-kota besar lain di Indonesia.

Keberadaan festival penggemar tersebut menjadi wadah berkumpul sekaligus ruang aman bagi pegiat cosplay. Bayangkan jika mereka berpakaian dan merias diri ala samurai Jepang di pusat belanja, pasti akan dipandang aneh. Namun, di festival, mereka mendapat apresiasi dari sesama cosplayer dan pengunjung umum.