Semangat Ramadan di Komunitas Muslim Mozambik
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Semangat Ramadan di Komunitas Muslim Mozambik

Prime Time News - RRI.CO.ID, Afrika - Di balik gemerlap pesisir Afrika Tenggara, tersimpan kisah hangat tentang toleransi dan semangat ibadah dari komunitas Muslim di Mozambik. Meski Islam merupakan agama minoritas yang dipeluk oleh sekitar 19 persen populasi, suasana bulan suci Ramadan tetap terasa kental dan penuh khidmat di negara bekas koloni Portugal tersebut.

Muhammad Rizal, seorang warga negara Indonesia yang berdomisili di Mozambik, membagikan pengalamannya mengenai tingginya antusiasme umat Muslim setempat dalam menyambut bulan suci. Menurut Rizal, masjid-masjid dan madrasah menjadi pusat aktivitas yang jauh lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa.

"Ghirah mereka menyambut Ramadan sangat tinggi. Masjid-masjid relatif lebih ramai, meski tidak sampai penuh sesak karena jumlah penduduk Muslim yang memang terbatas," ujarnya.

Tradisi tadarus atau membaca Al-Qur'an secara bersama-sama menjadi pemandangan rutin. Tidak hanya dilakukan oleh para Maulana (sebutan untuk pengurus masjid atau takmir), warga biasa hingga pekerja kantoran pun kerap meluangkan waktu untuk mengaji, baik di masjid maupun di tempat kerja mereka masing-masing.

Ramadan di Mozambik juga menghadirkan cita rasa kuliner yang unik. Salah satu hidangan yang paling dinantikan memiliki kemiripan dengan kolak di Indonesia. Hidangan manis ini disajikan hangat dengan bahan-bahan rempah yang kuat seperti: Kapulaga, Kismis dan Kayu Manis.

Menariknya, Mozambik tidak memiliki tradisi "pasar takjil" atau penjual makanan berbuka di pinggir jalan seperti di Indonesia. Masyarakat harus mencari atau membuat sendiri hidangan khusus tersebut, yang menjadikannya terasa lebih istimewa saat dinikmati.

Rizal juga mengungkap sisi historis yang mendalam antara Islam dan identitas negara ini. Nama "Mozambik" ternyata berakar dari nama seorang penguasa Muslim sebelum era kolonialisme Portugal, yakni Musa bin Biq.

Namanya begitu dihormati karena dianggap sebagai sosok yang membangun fondasi peradaban Islam dan jalur perdagangan di wilayah tersebut. Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah setempat bahkan mendirikan Universitas Musa bin Biq pada tahun 2000 untuk melestarikan warisan sejarah sang tokoh.

Kisah dari Mozambik ini menjadi pengingat bahwa esensi Ramadan, ibadah, persaudaraan, dan sejarah, tetap mampu menyatukan umat manusia melampaui batas-batas geografis dan perbedaan budaya.