Polri Berangkatkan 140 Personel Satgas FPU 7 Minusca untuk Misi Perdamaian di Afrika Tengah
Sumber Foto: Kompas.id
Internasional

Polri Berangkatkan 140 Personel Satgas FPU 7 Minusca untuk Misi Perdamaian di Afrika Tengah

Keikutsertaan Polri dalam misi perdamaian di Republik Afrika Tengah memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan kemanusiaan.

Audio Berita

6 menit

Oleh Machradin Wahyudi Ritonga

02 Okt 2025 18:44 WIB · Politik & Hukum

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia mengirimkan 140 polisi untuk misi perdamaian di Republik Afrika Tengah dalam Satuan Tugas Formed Police Unit atau FPU 7 Minusca. Penugasan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini diberangkatkan pada 10 Oktober 2025 dan bertugas setahun ke depan.

Kepala Biro Pembinaan Karier Staf Sumber Daya Manusia Polri Brigadir Jenderal (Pol) Langgeng Purnomo menyatakan, sebagian besar tim bakal ditempatkan di Bangui, ibu kota Afrika Tengah. Sementara itu, Tim SWAT Satgas FPU 7 akan ditempatkan ke daerah Bosangua, sekitar 300 kilometer dari Bangui.

Komposisi tim terdiri dari personel berpangkat bhayangkara satu (bharatu) hingga ajun komisaris besar. Mereka mendapatkan pelatihan dan pembekalan di Pusat Misi Internasional Polri, Serpong, Banten.

”Total 140 polisi yang tergabung dalam FPU 7 Minusca dengan pangkat bharatu sampai AKBP, satgas bertugas 1 tahun mulai 10 Oktober 2025-10 Oktober 2026 di Bangui, Republik Afrika Tengah,” kata Langgeng dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Dalam pembekalan kepada para personel, Langgeng mengingatkan mandat dari tugas FPU yang sangat krusial. Konflik internal di Afrika Tengah memerlukan intervensi PBB, sedangkan tugas utama satgas ini untuk melindungi warga sipil (protection of civilian), menjaga staf dan aset PBB, serta mengasistensi kepolisian lokal dalam penegakan hukum.

Selama menjalankan tugas, ujar Langgeng, satgas tidak memiliki kewenangan melakukan penegakan hukum secara independen. Meski demikian, personel tetap harus bekerja dengan landasan etis dalam menjalankan tugas.

Langgeng meminta personel satgas tetap menjaga jati diri bangsa. Karakter yang baik, lanjutnya, akan membawa dampak positif, apalagi saat bertugas jauh dari Tanah Air. Landasan etis yang bersumber dari akar sosial budaya, nilai agama, dan konsensus dasar bangsa harus menjadi pegangan.

”Keimanan harus terwujud dalam sikap hormat kepada sesama manusia, sementara kemanusiaan perlu berakar pada iman agar tidak mudah terseret godaan dunia. Karakter ini menjadi fondasi persatuan bangsa dan berfungsi sebagai modal Indonesia untuk menjadi contoh perdamaian bagi dunia,” katanya.

Iklan - Gulir ke Bawah untuk melajutkan

Iklan

Persiapan matang

Saat dihubungi secara terpisah, Komandan Satgas (FPU) 7 Minusca Ajun Komisaris Besar Norhayat menyatakan, tim dijadwalkan berangkat pada 10 Oktober 2025. Ratusan personel yang bertugas berasal dari berbagai fungsi dan diseleksi dari seluruh penjuru Tanah Air.

Semua fungsi kepolisian, lanjut Norhayat, masuk ke dalam satgas ini. Tidak hanya dari satuan elite Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, tetapi juga fungsi reserse, lalu lintas, hingga staf kehumasan.

”Tim berasal dari seluruh fungsi kepolisian dan rekrutmen berasal dari seluruh polda (kepolisian daerah), dari Aceh sampai Papua. Seleksi sudah dimulai dari Januari, dengan pemusatan pelatihan di Pusat Misi Internasional Serpong kurang lebih tujuh bulan,” ujarnya.

Norhayat yang juga menjabat Wakil Direktur Samapta Polda Riau menyatakan, ini bukan pertama kali pengalamannya bertugas di misi perdamaian internasional. Sebelumnya, dia juga turut bertugas di misi perdamaian PBB di Darfur, Sudan, pada 2008.

Baca Juga Briptu Renita, Contoh Baik Kepemimpinan Perempuan Bangun Perdamaian

”Kalau untuk ini (misi) sudah terbayang. Tetapi, kan, ini beda dengan yang Sudan. Dulu itu kami patroli di pengungsian. Kalau sekarang, tugasnya lebih ke implementasi perjanjian perdamaian antara pihak pemerintah dengan milisi,” ujarnya.

Misi tersebut, lanjut Norhayat, termasuk mengawal pemilihan umum hingga pengamanan naratama atau VIP. Pengalaman selama bertugas saat pemilu dan manajemen di Indonesia, ujarnya, menjadi modal yang bagus untuk menjalankan tugas membantu kepolisian lokal di sana.

Iklan - Gulir ke Bawah untuk melajutkan

Iklan

”Kami sudah dibekali pengetahuan terkait public order management, termasuk di dalamnya VIP protection. Pelatihan bahasa Perancis sebagai bahasa resmi di sana juga dibekali kepada tim. Kami siap,” kata Norhayat.

Perdamaian global

Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi Partai Golkar Dave Laksono menyatakan, misi (FPU) 7 Minusca di bawah naungan PBB menandakan kontribusi aktif Indonesia dalam perdamaian global. Dia mengapresiasi Polri sebagai institusi penegak hukum yang turut memberikan andil dalam upaya tersebut.

0 seconds of 0 secondsVolume 0%

00:00

00:00

Keikutsertaan Indonesia dalam misi di Republik Afrika Tengah ini, ujar Dave, memperkuat posisi negara ini sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas global. Dia memandang misi tersebut bukan hanya soal pengamanan, melainkan juga tentang membangun kepercayaan dan memperkuat kerja sama antarbangsa.

”Dari perspektif Komisi I DPR yang membidangi hubungan luar negeri dan pertahanan, kami melihat misi ini sebagai bagian dari kontribusi aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas internasional. Ini menunjukkan bahwa Indonesia hadir sebagai mitra yang dapat diandalkan dalam upaya perdamaian dunia,” kata Dave.

”Selamat bertugas kepada seluruh anggota Satgas FPU 7. Semoga misi ini berjalan lancar dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat di Afrika Tengah serta memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang cinta damai,” katanya.

polri Formed Police Unit 7 Minusca misi perdamaian SDGs SDG01-Tanpa Kemiskinan SDG16-Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh

Kerabat Kerja

Penulis:

Machradin Wahyudi Ritonga

|

Editor:

A. Ponco Anggoro

|

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto