Prime Time News - 
Latar Belakang
Di era digital saat ini, rasanya tidak sulit menemukan anak muda Indonesia yang hafal lirik lagu K-Pop terbaru atau mengikuti perkembangan idol favorit mereka di media sosial. Fenomena Hallyu atau Korean Wave telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Musik, drama, hingga gaya hidup Korea Selatan dengan mudah menjangkau masyarakat melalui berbagai platform digital. Bahkan, berdasarkan laporan K-Pop Radar, Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah penonton konten K-Pop terbesar di dunia melalui YouTube. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki minat yang besar terhadap karya seni dan budaya yang dikemas secara menarik dan mengikuti perkembangan zaman.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Berbagai bentuk seni tradisional, alat musik daerah, tarian, hingga karya budaya lainnya merupakan bagian dari identitas bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, di tengah derasnya arus budaya global, budaya lokal sering kali dianggap kurang menarik dibandingkan budaya populer dari luar negeri. Padahal, permasalahan utamanya bukan terletak pada kualitas budaya Indonesia, melainkan pada bagaimana budaya tersebut diperkenalkan kepada generasi muda.
Dalam situasi tersebut, kehadiran grup vokal perempuan Indonesia No Na menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. Di tengah dominasi budaya populer global, No Na hadir dengan pendekatan yang memadukan unsur modern dan identitas Indonesia. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang untuk berkembang dan diterima oleh generasi muda apabila dikemas secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pembahasan
Popularitas Hallyu selama dua dekade terakhir membuktikan bahwa seni dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan identitas suatu bangsa kepada dunia. Korea Selatan berhasil memanfaatkan musik dan industri hiburan sebagai bagian dari kekuatan budayanya. Melalui K-Pop, masyarakat dunia tidak hanya mengenal lagu-lagu Korea, tetapi juga bahasa, makanan, tradisi, dan budaya negara tersebut.
Fenomena tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi Indonesia. Sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang tidak kalah besar untuk memperkenalkan identitas budayanya melalui karya seni. Namun, agar budaya tetap diminati, diperlukan inovasi dalam cara penyajiannya. Budaya tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu dikembangkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dalam konteks tersebut, No Na memberikan contoh yang menarik mengenai bagaimana budaya lokal dapat hadir di tengah arus budaya global. Melalui karya musik yang mereka tampilkan, No Na tidak hanya mengikuti tren industri musik modern, tetapi juga berusaha menghadirkan unsur budaya Indonesia sebagai bagian dari identitas mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya lokal tidak harus ditinggalkan demi mengikuti perkembangan global, melainkan dapat berjalan berdampingan dan saling melengkapi.
Salah satu bentuk nyata yang terlihat adalah penggunaan unsur gamelan dalam lagu dan video musik Rollerblade. Kehadiran gamelan memberikan warna musik yang berbeda sekaligus memperkenalkan salah satu warisan budaya Indonesia kepada audiens yang lebih luas. Instrumen yang selama ini identik dengan pertunjukan tradisional tersebut dikemas dalam aransemen yang lebih modern sehingga terasa dekat dengan selera generasi muda. Langkah ini menunjukkan bahwa alat musik tradisional masih memiliki relevansi di tengah perkembangan industri musik saat ini.
Selain gamelan, No Na juga menampilkan unsur budaya Bali melalui penggunaan alat musik ceng-ceng dalam video musik Work. Ceng-ceng merupakan instrumen perkusi tradisional yang biasa digunakan dalam gamelan Bali. Kehadirannya dalam karya musik modern menunjukkan bahwa unsur budaya daerah dapat diintegrasikan ke dalam industri kreatif tanpa kehilangan identitas aslinya. Dengan cara seperti ini, generasi muda dapat mengenal budaya Indonesia melalui medium yang lebih akrab dengan kehidupan mereka.
Upaya memperkenalkan budaya Indonesia juga terlihat melalui penampilan para anggota No Na di berbagai acara internasional. Pada ajang Gold Gala, misalnya, mereka mengenakan busana batik yang dikemas dengan desain yang lebih modern. Penampilan tersebut menunjukkan bahwa batik tidak hanya relevan sebagai pakaian formal atau simbol budaya masa lalu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda masa kini. Melalui pendekatan tersebut, budaya Indonesia ditampilkan sebagai sesuatu yang dinamis dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Apa yang dilakukan No Na mencerminkan salah satu bentuk pemanfaatan seni sebagai objek pemajuan kebudayaan. Seni memiliki kemampuan untuk menjangkau masyarakat secara luas karena dapat dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa memandang usia maupun latar belakang. Ketika unsur budaya Indonesia diperkenalkan melalui musik yang dekat dengan generasi muda, proses pelestarian budaya menjadi lebih efektif dan tidak terasa sebagai kewajiban semata.
Lebih dari itu, fenomena No Na juga memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia, mengajarkan bahwa keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Indonesia terdiri atas berbagai suku, bahasa, dan budaya yang berbeda, namun seluruh keberagaman tersebut merupakan bagian dari identitas nasional. Ketika unsur budaya seperti gamelan, ceng-ceng, dan batik diperkenalkan kembali kepada generasi muda, tumbuh rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa yang pada akhirnya dapat memperkuat persatuan nasional.
Selain itu, sikap No Na yang terbuka terhadap perkembangan budaya global tanpa meninggalkan identitas Indonesia juga mencerminkan nilai Pancasila yang mampu menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap berpegang pada jati dirinya. Hal ini menjadi penting di tengah era globalisasi ketika berbagai budaya dari seluruh dunia dapat dengan mudah masuk dan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Penutup
Gelombang Hallyu telah menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan yang mampu membangun citra bangsa di tingkat global. Bagi Indonesia, fenomena tersebut seharusnya menjadi motivasi untuk terus mengembangkan budaya nasional melalui pendekatan yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kehadiran No Na memberikan gambaran bahwa budaya Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah arus budaya global. Melalui perpaduan musik modern dengan unsur budaya seperti gamelan, ceng-ceng, dan batik, mereka menunjukkan bahwa identitas Indonesia tidak harus ditinggalkan untuk dapat diterima oleh generasi muda maupun masyarakat internasional. Pada akhirnya, menjaga budaya bukan hanya tentang melestarikan warisan masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa budaya tersebut tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan bersama di masa depan.
Oleh: Sukma Kumala Dewi | Universitas Brawijaya
Daftar Pustaka
Arifianto, A. R. (2019). Explaining the Globalization of Korean Popular Culture: The Rise of Hallyu in Southeast Asia. Singapore: ISEAS Publishing.
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Jin, D. Y. (2016). New Korean Wave: Transnational Cultural Power in the Age of Social Media. Urbana: University of Illinois Press.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Pokok-Pokok Pemajuan Kebudayaan. Jakarta: Kemendikbudristek.
Kim, Y. (Ed.). (2013). The Korean Wave: Korean Media Go Global. London: Routledge.
K-Pop Radar. (2019). Global K-Pop Consumption Analysis Through YouTube Views. Seoul: Space Oddity.
Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Sugihartati, R. (2020). Youth Fans of Korean Pop Culture in Indonesia: Cultural Consumption and Identity Construction. Surabaya: Airlangga University Press.
Yoon, K. (2019). Transnational Hallyu: The Globalization of Korean Digital and Popular Culture. London: Lexington
