Menteri Meutya Hafid Diskusikan Perlindungan Anak Digital dengan Jonathan Haidt di Davos
Sumber Foto: Kanalindonesia.com
Teknologi

Menteri Meutya Hafid Diskusikan Perlindungan Anak Digital dengan Jonathan Haidt di Davos

Prime Time News - DAVOS, KANALINDONESIA.COM: Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid melakukan pertemuan strategis dengan psikolog sosial ternama dari Stern School of Business, Jonathan Haidt, di Indonesia Pavilion, Davos. Pertemuan ini fokus membahas solusi atas krisis kesehatan mental yang membayangi generasi muda akibat masifnya penggunaan teknologi digital.

Langkah ini menjadi momentum krusial bagi Pemerintah Indonesia untuk menyerap perspektif akademik global dalam menghadapi fenomena “generasi cemas” atau the anxious generation. Selain itu, diskusi ini bertujuan memperkuat substansi kebijakan perlindungan anak di ruang siber yang tengah digodok melalui Peraturan Pemerintah tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP TUNAS).

Dalam keterangannya, Menteri Meutya Hafid menekankan pentingnya landasan ilmiah dalam merumuskan regulasi. “Kita tidak bisa hanya membuat aturan tanpa memahami akar masalah psikologis yang dihadapi anak-anak kita. Pertemuan dengan Jonathan Haidt membantu kita menyinergikan kebijakan pemerintah dengan riset akademik global agar PP TUNAS benar-benar menjadi perisai yang efektif bagi kesehatan mental generasi digital Indonesia,” ujar Meutya.

Berita Terkait

Kunker di Sumut, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Akan Hadiri Puncak Hari Pers Nasional

Senam Bersama, Kemenpora Gelorakan Program Ayo Olahraga

Kemkomdigi: Kesepakatan Perdagangan Jadi Mekanisme Hukum Aman untuk Transfer Data Pribadi ke AS

Kopdes Merah Putih, Motor Presiden untuk Gerakkan Ekonomi Desa

KPK Jadwalkan Panggil Enam Saksi Terkait Kasus Harun Masiku

Presiden Jokowi Tekankan Pembangunan SDM Kunci Indonesia Emas 2045

Meutya menambahkan bahwa kolaborasi antara pembuat kebijakan dan akademisi internasional merupakan kunci untuk menciptakan regulasi yang tepat sasaran. Menurutnya, pemerintah membutuhkan basis riset yang kuat agar kebijakan yang dihasilkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mampu menjawab dinamika sosial generasi digital yang sangat cepat berubah.

Jonathan Haidt, yang juga merupakan penulis buku fenomenal The Anxious Generation, memberikan masukan terkait dampak sistemik media sosial terhadap perkembangan psikologis remaja. Masukan tersebut diharapkan dapat memperkaya draf PP TUNAS agar lebih komprehensif dalam memitigasi risiko kesehatan mental serta perilaku menyimpang di dunia maya.

Melalui sinergi global ini, Kementerian Komdigi optimistis dapat menghadirkan ekosistem digital yang lebih aman dan adaptif bagi anak-anak Indonesia. Pemerintah menargetkan aturan turunan ini mampu melindungi hak-hak digital anak tanpa membatasi ruang kreativitas mereka di masa depan.