Lilit Pop: Kampanye Kreatif untuk Kenalkan Kain Tradisional kepada Generasi Muda
Hiburan

Lilit Pop: Kampanye Kreatif untuk Kenalkan Kain Tradisional kepada Generasi Muda

Prime Time News - Semarang, JurnalPost.com – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Salah satu warisan budaya yang masih lestari hingga saat ini adalah penggunaan kain tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga menjadi simbol identitas, nilai filosofis, serta sejarah dari berbagai daerah di Nusantara. Di tengah perkembangan industri fesyen dan arus globalisasi, keberadaan kain tradisional menghadapi tantangan baru. Generasi muda mulai lebih akrab dengan tren berpakaian modern dibandingkan mengenal cara mengenakan kain tradisional, sehingga penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari semakin jarang ditemui.

Melihat kondisi tersebut, kelompok mahasiswa program studi S1-Ilmu Komunikasi, Universitas Semarang (USM) menghadirkan sebuah kampanye budaya bertajuk Lilit Pop dengan tagline ‘Lilit Kain, Tetap Main!’.’. Kampanye ini lahir dari gagasan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui pendekatan yang kaku, melainkan dapat dikemas secara kreatif, komunikatif, dan dekat dengan gaya hidup masyarakat saat ini. Lilit Pop mengajak masyarakat untuk melihat kain tradisional sebagai media berekspresi yang fleksibel, modis, dan tetap menghargai nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Melalui dua kegiatan utama yang dilaksanakan di ruang publik dan lingkungan kampus, Lilit Pop menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga interaktif. Masyarakat diajak untuk mencoba secara langsung seni melilit kain, berdialog dengan praktisi fesyen, hingga menikmati berbagai aktivitas budaya hasil kolaborasi bersama mitra.

Mengubah Cara Pandang Generasi Muda terhadap Kain Tradisional

Konsep Lilit Pop berangkat dari pemikiran bahwa pelestarian budaya akan lebih mudah diterima apabila dikemas dengan pendekatan yang relevan bagi generasi muda. Oleh karena itu, tim tidak hanya memperkenalkan kain tradisional sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Nama Lilit Pop merupakan perpaduan antara kata ‘lilit’ yang menggambarkan teknik penggunaan kain tradisional dan ‘pop’ yang merepresentasikan budaya populer. Melalui konsep tersebut, tim ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional mampu berjalan berdampingan dengan perkembangan tren modern tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.

Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar pengunjung tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga merasakan pengalaman secara langsung. Pendekatan experiential learning ini membuat peserta lebih mudah memahami bahwa kain tradisional dapat dikenakan dengan praktis, nyaman, dan tetap terlihat menarik.

Menghidupkan Car Free Day dengan Aksi “Styling Berlilit Kain”

Kegiatan pertama diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di kawasan Car Free Day Simpang Lima Semarang dengan menggandeng Gunawan sebagai Fashion Stylist dan Content Creator. Lokasi ini dipilih karena menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat setiap akhir pekan sehingga mampu menjangkau pengunjung dari berbagai usia dan latar belakang.

Sejak pagi hari, booth Lilit Pop mulai menarik perhatian masyarakat. Pengunjung yang awalnya hanya melintas terlihat berhenti untuk menyaksikan demonstrasi melilit kain yang dilakukan secara langsung. Rasa penasaran mereka semakin meningkat ketika melihat bagaimana selembar kain tradisional dapat diubah menjadi berbagai tampilan yang modern, elegan, dan mudah diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari.

Gunawan membagikan berbagai teknik styling yang sederhana namun tetap memperhatikan estetika. Setiap demonstrasi disertai penjelasan mengenai cara memilih kain, teknik lilitan, hingga tips memadukannya dengan pakaian kasual. Penyampaian yang komunikatif membuat pengunjung merasa nyaman untuk bertanya dan berdiskusi.

Antusiasme masyarakat terlihat dari antrean peserta yang ingin mencoba styling secara langsung. Tidak hanya remaja, tetapi juga orang tua, pasangan muda, hingga keluarga yang datang bersama anak-anak ikut berpartisipasi. Banyak peserta rela menunggu giliran agar dapat memperoleh pengalaman dililitkan kain secara langsung sekaligus berkonsultasi mengenai gaya yang paling sesuai dengan karakter mereka.

Suasana semakin hidup ketika peserta yang telah selesai mengikuti sesi styling mengabadikan penampilan mereka melalui foto dan video. Dokumentasi tersebut kemudian dibagikan melalui media sosial sehingga membantu memperluas penyebaran pesan kampanye Lilit Pop kepada masyarakat yang lebih luas. Interaksi yang hangat antara narasumber, tim mahasiswa, dan pengunjung menjadikan kegiatan ini tidak sekadar demonstrasi, tetapi juga ruang belajar budaya yang menyenangkan.

Satu Booth, Tiga Pengalaman Budaya yang Mencuri Perhatian Pengunjung

Rangkaian kegiatan kedua dilaksanakan pada Dies Natalis ke-39 Universitas Semarang di GOR USM pada 21 Juni 2026. Pada kesempatan ini, Lilit Pop berkolaborasi dengan Puspa Loka dan Jagad Nusa melalui konsep ‘Satu Booth, Tiga Pengalaman Budaya’.

Kolaborasi tersebut menghadirkan pengalaman yang lebih lengkap. Lilit Pop mengajak pengunjung mencoba seni melilit kain, Puspa Loka memperkenalkan destinasi dan kekayaan budaya lokal, sedangkan Jagad Nusa menghadirkan face painting dengan motif budaya Nusantara. Ketiga aktivitas tersebut saling melengkapi sehingga pengunjung dapat menikmati berbagai bentuk pelestarian budaya dalam satu lokasi.

Booth menjadi salah satu area yang ramai dikunjungi sepanjang kegiatan berlangsung. Mahasiswa, dosen, alumni, serta masyarakat umum datang silih berganti untuk mengikuti setiap aktivitas. Banyak pengunjung memilih menghabiskan waktu lebih lama karena ingin mencoba seluruh pengalaman budaya yang tersedia.

Interaksi berlangsung sangat aktif. Pengunjung tidak hanya mengikuti aktivitas, tetapi juga mengajukan pertanyaan mengenai filosofi kain tradisional, sejarah budaya lokal, hingga pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia. Respons positif tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap budaya apabila disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.

Suasana booth semakin semarak dengan banyaknya pengunjung yang berfoto bersama, mendokumentasikan kegiatan, dan membagikannya melalui media sosial. Kehadiran dokumentasi digital tersebut menjadi media promosi yang efektif sehingga pesan kampanye dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Antusiasme Pengunjung Menjadi Bukti Budaya Masih Diminati

Dua rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa budaya masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah masyarakat. Tingginya jumlah pengunjung yang datang, panjangnya antrean peserta pada sesi styling, serta aktifnya diskusi selama kegiatan berlangsung menjadi indikator bahwa pendekatan kreatif mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap budaya lokal.

Pengunjung tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi terlibat langsung dalam setiap aktivitas yang diselenggarakan. Banyak peserta mengaku baru mengetahui bahwa kain tradisional dapat dikenakan dengan berbagai model modern tanpa menghilangkan nilai budaya. Pengalaman mencoba secara langsung memberikan kesan yang lebih mendalam dibandingkan hanya melihat informasi melalui media digital.

Kolaborasi bersama praktisi fesyen dan komunitas budaya juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui sinergi lintas bidang. Pendekatan ini membuka peluang bagi generasi muda untuk melihat budaya sebagai sesuatu yang relevan, kreatif, dan membanggakan.

Melalui kampanye Lilit Pop, mahasiswa Universitas Semarang berhasil menghadirkan inovasi pelestarian budaya yang memadukan edukasi, kreativitas, dan kolaborasi. Kegiatan ini membuktikan bahwa budaya dapat dikenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat sehingga mampu membangun ketertarikan dan partisipasi aktif.

Tagline ‘Lilit Kain, Tetap Main!’ menjadi ajakan sederhana namun bermakna agar masyarakat tidak ragu mengenakan kain tradisional dalam berbagai kesempatan. Dengan terus menghadirkan kegiatan yang kreatif dan kolaboratif, Lilit Pop diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa maupun masyarakat untuk terus mencintai, menggunakan, dan melestarikan warisan budaya Indonesia sehingga tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

You can share this post!