Lagu Lokal Timur: Dari Viralitas ke Kesadaran Budaya
Belakangan ini, linimasa TikTok dipenuhi dentuman lagu -lagu penuh semangat dari Timur Indonesia. Judul-judul seperti Stecu-Stecu, Nyong Timur, Tabola Bale, hingga Pica-Pica bukan hanya menggoyang badan, tapi juga menggoyang wacana lama tentang siapa yang punya panggung dalam industri budaya populer Indonesia. Lagu-lagu ini tidak datang dari label besar Jakarta atau produksi mahal namun dari komunitas, bahasa daerah, dan semangat kolektif yang tersebar dari Ambon hingga Flores.
Fenomena ini patut dibaca lebih jauh. Ketika anak muda dari Jakarta, Bandung, hingga Palembang mulai ikut-ikutan tren dance dengan latar musik berbahasa daerah, ini bukan sekadar “ikutan lucu-lucuan.” Ini menunjukkan betapa kekuatan budaya digital telah mengubah cara kita mengonsumsi dan memproduksi budaya. Dari yang sebelumnya top-down budaya ditentukan oleh pusat kekuasaan dan ekonomi, tapi kini ia tumbuh secara horizontal dan viral, dari siapa saja, kapan saja, dan dari mana saja.
TikTok, dengan algoritmanya, memungkinkan ekspresi budaya lokal untuk naik kelas, tanpa harus disaring dulu oleh industri besar. Namun, ada pertanyaan yang perlu kita refleksikan bersama: apakah viralitas ini membawa dampak yang substansial bagi komunitas budaya itu sendiri, ataukah hanya menjadi “eksotisme sesaat” yang habis ketika tren berganti?
Mari kita bicara, misalnya, soal lagu Stecu-Stecu yang meledak di TikTok. Lagu ini bukan semata-mata alat goyangan, tapi ia membawa bahasa, logat, dan energi khas dari masyarakat timur Indonesia yang sering kali diabaikan dalam arus utama media nasional. Ketika lagu ini viral, maka bahasa itu ikut tampil; identitas itu ikut terangkat. Namun, di balik selebrasi itu, penting untuk menyoroti: siapa yang diuntungkan dari viralitas ini? Apakah komunitas penciptanya turut menerima pengakuan dan dukungan ekonomi, atau hanya dilihat sebagai hiburan singkat semata?
Fenomena ini membuka obrolan yang lebih luas tentang soft power Indonesia dari Timur. Di tengah perbincangan soal Ibu Kota Nusantara, desentralisasi budaya juga harus jadi agenda utama. Kita tidak bisa lagi bicara tentang “satu Indonesia” tapi hanya dari sudut pandang budaya dominan. Lagu-lagu seperti Nyong Timur dan Tabola Bale menjadi jendela kecil dari kekayaan besar yang selama ini dipinggirkan.
Anak muda dari wilayah timur Indonesia kini memiliki panggung meski virtual untuk menunjukkan bahwa mereka punya selera, estetika, dan gaya sendiri. Dan justru karena keunikan itulah, mereka menjadi menarik. Ironisnya, tren ini juga memperlihatkan betapa minimnya perhatian negara terhadap industri kreatif lokal. Banyak dari musisi-musisi daerah ini tetap berkarya dengan alat terbatas, akses minim, dan tanpa perlindungan hak cipta yang memadai.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap cara orang-orang dari wilayah lain menyerap budaya ini. Terkadang, budaya lokal yang viral justru dirayakan tanpa konteks, tanpa tahu asal-usulnya. Inilah yang disebut banyak ahli sebagai “cultural appropriation” saat budaya diambil, dijual, dan dipakai tanpa menghormati komunitas asalnya. Apakah anak-anak muda yang goyang Pica-Pica di mall Jakarta tahu bahwa lagu itu berasal dari kebudayaan pesisir yang kaya tradisi? Apakah mereka tahu makna dari kata-kata dalam lagu itu?
Maka, viralnya lagu-lagu ini seharusnya menjadi gerbang kesadaran, bukan hanya gerbang hiburan. Momentum ini bisa jadi langkah awal untuk membangun pemahaman lintas budaya yang lebih kuat, untuk menjadikan platform digital sebagai ruang pertukaran yang setara. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri kreatif harus membaca sinyal ini sebagai seruan untuk mendukung dan memfasilitasi pertumbuhan industri musik lokal bukan hanya yang berbasis ibukota.
Lebih jauh, saya membayangkan sebuah masa depan di mana Indonesia punya strategi budaya digital yang jelas. Di mana lagu-lagu dari daerah bukan hanya viral karena algoritma, tapi karena ada dukungan institusional untuk membangun ekosistemnya. Bayangkan kalau lagu-lagu seperti Tabola Bale diputar di festival internasional, dengan musisi aslinya mendapat royalti dan tampil sebagai wajah Indonesia di mata dunia. Bukankah itu bentuk diplomasi budaya yang elegan?
Akhirnya, viralitas lagu-lagu timur ini memberi kita kesempatan langka untuk bercermin: apakah kita sungguh mencintai keberagaman budaya kita, ataukah kita hanya sedang menikmati “rasa baru” untuk sementara? Apakah kita benar-benar siap menjadikan budaya dari Timur sebagai bagian dari identitas nasional yang utuh, atau hanya sebagai konten yang lewat lalu?




