KLB Cakung: Analisis Sanitasi dan Pengolahan Pangan
Sumber Foto: Smart Newsroom
Kata Media

KLB Cakung: Analisis Sanitasi dan Pengolahan Pangan

Hasil investigasi terhadap kasus keracunan massal yang melibatkan ratusan siswa SD di Cakung, Jakarta Timur, memberikan wawasan berharga untuk perbaikan di masa depan. Dinas Kesehatan DKI Jakarta menemukan peluang untuk meningkatkan sanitasi dan prosedur pengolahan pangan yang lebih baik. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, memaparkan laporan akhir mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) tersebut. Ia menekankan pentingnya penerapan higiene yang lebih ketat di dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan keamanan pangan. "Kami melihat adanya kesempatan untuk memperbaiki penerapan higiene dan sanitasi pada aspek tempat, penjamah pangan, serta handling bahan dan peralatan, sehingga dapat mengurangi risiko pencemaran pangan di masa mendatang," ujar Ani, Kamis (14/5). Temuan Laboratorium: Peluang untuk Meningkatkan Kualitas Pangan Berdasarkan hasil uji laboratorium, ditemukan beberapa area yang dapat ditingkatkan dalam pengolahan pangan siap saji yang dikonsumsi para siswa. Dinkes menyoroti menu bakmi jawa dan pangsit tahu berkuah sebagai jenis pangan yang perlu perhatian lebih untuk memastikan kualitas dan kesegarannya. Dinkes juga mencatat pentingnya penggunaan bahan baku yang berkualitas tinggi sejak awal proses produksi. "Kami akan fokus pada peningkatan mutu bahan pangan, khususnya tahu, untuk memastikan bahwa semua bahan yang digunakan dalam kondisi terbaik," ungkap Ani. Kesempatan untuk Meningkatkan Proses Pengolahan Selain bahan baku, proses pengolahan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cakung Pulogebang 15 juga memberikan peluang untuk perbaikan. Salah satunya adalah teknik memasak mie yang dapat ditingkatkan untuk mencapai suhu optimal dalam membunuh kuman. "Kami akan memastikan bahwa proses pengolahan mie basah melalui tahapan perebusan (boiling) yang tepat, sehingga dapat mencapai suhu optimal untuk menurunkan jumlah mikroorganisme," tambah Ani. Dengan langkah-langkah perbaikan ini, diharapkan kejadian serupa tidak terulang dan kualitas pangan yang disajikan kepada siswa dapat terus ditingkatkan.