Ketegangan AS-Venezuela Bayangi Keamanan Piala Dunia 2026 di AS, Meksiko, dan Kanada
AFP
Oleh Andreas Yoga Prasetyo
18 Jan 2026 10:01 WIB · Olahraga
Geopolitik dunia pada 2026 langsung menghangat setelah terjadi serangan Amerika Serikat ke ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu (3/1/2026). Berdalih demi keamanan nasionalnya dari perdagangan narkoba lintas negara, AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kondisi ini mengkhawatirkan dunia internasional akan dampaknya terhadap stabilitas geopolitik global. Terlebih, Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan ancaman kepada sejumlah negara, seperti Meksiko, Kolombia, Kuba, Iran, dan Greenland.
Salah satu yang dikhawatirkan adalah dampaknya terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Penyelenggaraan Piala Dunia akan dimulai pada 11 Juni 2026 dan diakhiri dengan partai final pada 19 Juli 2026.
Piala Dunia tahun ini terbilang istimewa karena untuk pertama kali diadakan di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Selain itu, Piala Dunia kali ini untuk pertama kali diikuti oleh 48 negara, meningkat dibandingkan sebelumnya yang 32 negara.
Ketegangan yang terjadi seusai penangkapan Presiden Venezuela dikhawatirkan akan memengaruhi keamanan dalam pelaksanaan Piala Dunia mendatang. Apalagi, Amerika Serikat adalah salah satu tuan rumah yang terbilang penting dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Negeri ”Paman Sam” ini juga dipercaya sebagai penyelenggara partai puncak pada 19 Juli 2026 yang akan berlangsung di Stadion New York New Jersey. Penunjukan ini tentu akan menyedot perhatian dunia internasional sehingga aspek keamanan menjadi perhatian utama.
Konflik dan ancaman juga berpotensi terjadi di Meksiko, negara yang secara khusus disebut oleh Trump sebagai ancaman karena persoalan narkoba sebagaimana Venezulea. Meksiko adalah salah satu tuan rumah yang menjadi tempat sejumlah pertandingan penting pada babak penyisihan, 32 besar, hingga babak 16 besar. Bahkan, partai pembuka akan diselenggarakan di Meksiko yang akan mempertemukan tim tuan rumah Meksiko dengan Afrika Selatan pada 11 Juni 2026.
Status tuan rumah dan penyelenggara pertandingan pembuka tentu akan berdampak pada keramaian di Meksiko. Selain itu, Meksiko juga akan menjadi pusat perhatian dunia dalam ajang pembuka Piala Dunia 2026. Potensi konflik tentu perlu benar-benar diantisipasi di tengah ketegangan politik yang terjadi.
Piala Dunia di tengah perang
Penyelenggaraan Piala Dunia di tengah potensi konflik, bahkan perang, bukanlah yang pertama dalam sejarah. Dalam beberapa pergelaran, Piala Dunia tetap terlaksana di tengah konflik antarnegara yang berlangsung.
Salah satu penyelenggaraan di tengah konflik adalah Piala Dunia 1938 di Perancis. Saat itu, Prancis ditunjuk sebagai tuan rumah untuk ketiga kalinya. Pelaksanaan Piala Dunia ini diwarnai oleh ancaman keamanan, terutama setelah serangan yang dilakukan oleh Jerman terhadap Austria.
Invasi dilakukan oleh Jerman ke Austria pada Maret 1938, sementara Piala Dunia dilaksanakan pada Juni 1938. Artinya, Piala Dunia di Eropa dilaksanakan hanya berselang tiga bulan setelah serangan Jerman ke Austria. Dalam sejarah peradaban modern, invasi ini dikenal dengan sebutan ” anschluss ” yang menggambarkan aneksasi Jerman untuk merebut wilayah Austria.
Kondisi ini membawa dampak besar dalam pelaksanaan Piala Dunia. Austria yang harusnya menjadi satu dari 16 tim peserta Piala Dunia terpaksa harus mengundurkan diri akibat invasi Jerman. Swedia yang sedianya bertemu dengan Austria pun ditetapkan sebagai pemenang. Adapun Jerman tetap ikut serta dan gugur di pertandingan pertama setelah ditekuk oleh Swiss. Meski diwarnai ketegangan dan ancaman perang yang meluas, Piala Dunia 1938 tetap dilaksanakan hingga melahirkan Italia sebagai juara dunia.
Piala Dunia akhirnya harus benar-benar dibatalkan akibat Perang Dunia. Pada 1942, Jerman dan Brasil yang bersaing sebagai calon tuan rumah harus mengurungkan niat akibat perang yang berkecamuk. Demikian pula pada Piala Dunia 1946. Meski perang telah berakhir pada 1945, mepetnya waktu persiapan memaksa penyelenggaraan Piala Dunia kembali tertunda. Seusai perang, Piala Dunia baru benar-benar dilaksanakan pada 1950 di Brasil.
Ketegangan antarnegara
Tak berhenti di situ, Piala Dunia selanjutnya masih diselenggarakan di tengah ketegangan antarnegara. Ketegangan yang cukup banyak diberitakan oleh media internasional adalah saat penyelenggaraan Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Saat itu, Jerman terbagi menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Kedua negara ini terlibat ketegangan akibat faktor ideologi dan politik setelah Perang Dunia II berakhir.
Pelaksanaan Piala Dunia di Jerman Barat saat itu juga diwarnai kekhawatiran. Ketegangan yang terjadi selama hampir tiga dekade ditakutkan berpengaruh pada aspek keamanan. Apalagi, Jerman Barat dan Jerman Timur berada dalam satu grup yang sama.
Di tengah kekhawatiran ini, pelaksanaan Piala Dunia justru berjalan sesuai harapan. Bahkan, terdapat beberapa kejutan yang sempat menghebohkan jagat pemberitaan saat itu. Salah satunya adalah saat Jerman Barat selaku tuan rumah dikalahkan oleh Jerman Timur pada babak penyisihan grup.
Meski kalah dengan status tuan rumah, Jerman Barat tetap lolos bersama Jerman Timur menuju fase kedua. Bahkan, Jerman Barat berhasil terus melaju hingga meraih gelar juara dunia untuk kedua kali.
Memasuki abad ke-21, Piala Dunia juga tidak dapat dilepaskan dari konflik antarnegara. Pada Piala Dunia 2002, misalnya, Jepang dan Korea Selatan yang sama-sama menyandang status sebagai tuan rumah Piala Dunia juga sempat mengalami ketegangan sebelum pelaksanaan Piala Dunia.
Pada 2001, atau sekitar 10 bulan jelang penyelenggaraan Piala Dunia, Jepang dan Korea Selatan terlibat ketegangan politik. Hal ini terjadi karena Jepang menolak untuk merevisi buku pelajaran sejarah. Korea Selatan bersama China saat itu meminta Jepang untuk merevisi buku sejarah karena dianggap tidak menyampaikan tragedi terkait invasi yang dilakukan oleh Jepang selama Perang Dunia II sesuai fakta.
Akibat kondisi ini, hubungan diplomatik Jepang dan Korea Selatan memanas. Korea Selatan bahkan menarik duta besar yang berada di Jepang serta menghentikan kerja sama militer sebagai wujud protes. Meski demikian, pelaksanaan Piala Dunia tetap bergulir di tengah perselisihan kedua negara tanpa adanya dampak yang berarti.
Piala Dunia berikutnya yang berlangsung di tengah konflik adalah saat Rusia ditunjuk menjadi tuan rumah pada 2018. Beberapa negara saat itu meragukan keamanan Rusia setelah konflik yang terjadi dengan Ukraina. Sebagai solusi, FIFA berencana memisahkan grup Rusia dan Ukraina andai lolos ke putaran final Piala Dunia. Namun, kekhawatiran perlahan memudar setelah Ukraina gagal lolos ke putaran final 2018 setelah tersingkir pada babak kualifikasi.
Jika melihat dari penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya, tampak bahwa ajang empat tahunan ini tetap terselenggara di tengah ragam potensi konflik yang muncul. Ancaman keamanan yang menjadi kekhawatiran pun berhasil diantisipasi.
Jelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kali ini, FIFA menyebutkan, penggemar bola dunia tetap antusias menyambut pesta sepak bola paling akbar sejagad ini. Lebih dari 500 juta tiket pertandingan Piala Dunia telah terjual sepanjang 11 Desember 2025-13 Januari 2026.
Tiket yang terjual ini datang dari 211 negara/anggota FIFA. Penggemar bola dari Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, Jerman, Inggris, Brasil, Spanyol, Portugal, Argentina, dan Kolombia merupakan yang terbanyak memesan tiket pertandingan Piala Dunia 2026.
”FIFA mengucapkan terima kasih kepada para penggemar sepak bola di dunia atas respons luar biasa ini,” kata Presiden FIFA Giannie Infantino, sebagimana dikutip dari laman FIFA, Kamis (15/1/2026).
Setengah miliar tiket terjual dalam satu bulan menjadi bukti optimisme publik dunia terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di tengah ancaman perang. Meski demikian, tetap menarik untuk terus menantikan persiapan Piala Dunia 2026 di tengah ketegangan yang terjadi di belahan Benua Amerika.
Sayup-sayup sudah terdengar pembatalan 16.800 tiket pertandingan Piala Dunia, Kompas.com (Kamis, 15/1/2026). Ancaman lain ialah kebijakan pembatasan penerbitan visa oleh Pemerintah AS ke sejumlah negara.
Meski demkian, lini masa Piala Dunia merupakan bahasa universal yang menyatukan negara-negara di dunia dalam semangat olahraga. Turnamen empat tahunan ini terbukti mampu melampaui perbedaan budaya dan bahasa yang menyatukan dunia melalui pesta bola. Semoga Piala Dunia 2026 dapat pula meredam konflik geopolitik global dan merajut perdamaian dunia. (LITBANG KOMPAS)
piala dunia 2026 AS-Venezuela piala dunia
Kerabat Kerja
Penulis:
Andreas Yoga Prasetyo
|
Editor:
Yohan Wahyu
|
Infografik:
Gunawan Kartapranata, Dimas Tri Adiyanto
|
Penyelaras Bahasa:
Teguh Candra




