Prime Time News - JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono alias Mas Dar, menyebut harga kakao global sedang naik karena pasokan berbagai negara berkurang.
Mas Dar mengatakan, penurunan pasokan itu di antaranya disebabkan lahan perkebunan kakao di Afrika dialihfungsikan menjadi tambang.
“Kakao sekarang lagi tinggi harganya karena di sumber kakao lain di dunia, di belahan dunia lain lagi kayak di Afrika lagi alih fungsi jadi tambang,” kata Mas Dar saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Peperangan yang meletus juga turut memicu kenaikan harga kakao di pasar global.
Menurut Mas Dar, penurunan pasokan kakao dari Afrika itu menjadi celah pasar untuk kakao Indonesia yang menjadi salah satu komoditas unggulan.
“Nah ini kesempatan bagi kita kan, kakao juga kan unggulan bagi kita. Jadi ini penting nih,” ujar Mas Dar.
Kakao menjadi salah satu komoditas yang menjadi prioritas program hilirisasi pemerintah selain kelapa, pala, lada, mete, gambir, dan tebu.
Pemerintah menggelontorkan anggaran Rp 9,95 triliun untuk peremajaan sejumlah komoditas tersebut. Dana itu disalurkan kepada para petani dalam kurun waktu tiga tahun.
Kucuran dana ini bertujuan mendorong peningkatan produksi hasil perkebunan komoditas yang berdampak besar terhadap petani dan permintaan tinggi di pasar global.
“Kita remajakan bibitnya yang sesuai, yang terstandar, cara pengelolaannya yang bener, maka produktivitasnya tinggi, petaninya tambah sejahtera,” tutur Mas Dar.
Di luar dorongan pada produktivitas perkebunan tersebut, pemerintah juga membangun pabrik untuk hilirisasi komodias strategis.
Alumni SMA Taruna Nusantara (Tarnus) itu menyebut, pembangunan pabrik itu tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan pihak swasta.
“Leadernya Danantara, melibatkan pihak swasta dan petani. Total investasi di hilirisasi ini Rp 371 triliun,” kata Mas Dar.
Proyek hilirisasi ini bakal menyerap hasil perkebunan petani yang produktivitasnya telah digenjot melalui program peremajaan tanaman.
Hasil kebun itu diolah menjadi produk jadi dan dijual ke pasar ekspor dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Proyek dengan investasi Rp 371 triliun ini mencakup perkebunan sampai pembangunan ekosistem industri ayam yang terintegrasi.
“Jadi kita, kita produksi kita tingkatkan tapi juga harus dibarengi dengan dengan industri. Nah industrinya itu caranya pakai skema investasi jadi enggak pakai APBN,” tutur Mas Dar.