Kekacauan di Meksiko Picu Kekhawatiran Keamanan Piala Dunia 2026
Prime Time News - GUADALAJARA, KOMPAS.com - Satu-satunya akses menuju Estadio Akron di Guadalajara, kandang Chivas de Guadalajara yang dijadwalkan menjadi tuan rumah empat laga fase grup Piala Dunia 2026, kembali menjadi sorotan.
Menjelang turnamen akbar empat tahunan itu, kemacetan lalu lintas di sekitar stadion menjadi perhatian utama.
Namun, pada Minggu (22/2/2026) pagi, persoalan berbeda terjadi ketika bus yang terbakar menghalangi jalan sekitar 1,5 kilometer dari stadion, tepatnya di dekat lintasan gokart yang menggunakan nama pebalap Formula 1 Meksiko, Sergio “Checo” Pérez.
Insiden itu bukan kejadian tunggal di Negara Bagian Jalisco pada hari yang sama.
Sebagai respons atas operasi federal yang menewaskan pemimpin mereka, Nemesio “ El Mencho ” Oseguera Cervantes, anggota Cartel de Jalisco Nueva Generación (CJNG)—singkatnya kartel narkoba Jalisco—melakukan blokade di berbagai wilayah, mulai dari pusat Guadalajara hingga Puerto Vallarta.
Bus dan taksi dibajak lalu dibakar dalam taktik yang dikenal sebagai narcobloqueos.
Sejumlah toko turut menjadi sasaran pembakaran dan perusakan, termasuk Costco di Puerto Vallarta serta beberapa toko kelontong.
Pemerintah kota kemudian mengaktifkan protokol siaga merah yang membatasi aktivitas warga, mengimbau masyarakat tetap berada di rumah.
Bar dan restoran ditutup, agenda olahraga pun terdampak.
Laga Clasico Nacional tim putri antara Chivas dan Club América ditunda, pertandingan Liga MX putra yang digelar lebih dari 320 kilometer di Querétaro juga mengalami penundaan.
Operasi CJNG dan kelompok afiliasinya memblokade jalan di sedikitnya delapan negara bagian, meski belum ada narcobloqueos terkonfirmasi di Queretaro saat laporan ini ditulis.
Kerusuhan selalu hantui sepak bola Meksiko
Lihat Foto
Rangkaian peristiwa tersebut kembali memunculkan pertanyaan lama mengenai kesiapan otoritas Meksiko dalam menjamin keamanan Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Amerika Serikat.
Kekhawatiran bahwa pertandingan di negara gila sepak bola tersebut dapat menjadi sasaran kekerasan selalu menghantui pejabat politik, pengelola liga, dan penggemar selama puluhan tahun.
Ingatan publik masih tertuju pada Agustus 2011 ketika baku tembak terjadi di luar Stadion Corona, markas Santos Laguna.
Para pemain berlari ke ruang ganti saat laga melawan Monarcas Morelia berlangsung. Suporter yang panik berlindung di bawah kursi sebelum sebagian melompat ke lapangan untuk mencari perlindungan.
Penembakan itu kemudian dipastikan terjadi di luar stadion dan semua orang di dalam arena selamat.
Peristiwa tersebut tetap menjadi pukulan bagi citra Liga MX yang berupaya memasarkan diri sebagai kompetisi ramah keluarga dan destinasi bagi talenta internasional.
Citra pemain yang berlari menyelamatkan diri bertolak belakang dengan upaya liga menghapus stereotip Meksiko sebagai negara yang dilanda perang kartel.
Lihat Foto
Dampak kekerasan juga dirasakan klub Dorados di Sinaloa. Tim divisi dua itu belum memainkan laga kandang sejak Oktober 2024 akibat konflik antarfaksi Kartel Sinaloa.
Dorados sementara pindah ke Baja California, tetapi tim bisbol lokal tetap bisa menggelar pertandingan tanpa insiden.
Konflik di Sinaloa sebagian besar terjadi antarkelompok kejahatan terorganisasi.
Pengalaman tersebut mengingatkan publik pada insiden 2019 ketika aparat berusaha menangkap Ovidio Guzman López, putra Joaquin “El Chapo” Guzman, demi memenuhi permintaan ekstradisi Amerika Serikat.
Kartel Sinaloa merespons dengan mendirikan blokade dan melancarkan serangan bersenjata hingga Guzman dibebaskan, peristiwa yang dikenal sebagai Pertempuran Culiacan atau Culicanazo.
Masih layakkah Meksiko jadi tuan rumah Piala Dunia 2026?
Lihat Foto
Kondisi-kondisi itu membuat sebagian masyarakat mempertanyakan langkah pemerintah menjelang Piala Dunia 2026.
Operasi seperti yang terjadi saat tewasnya El Mencho dinilai berpotensi memicu ketidakstabilan jangka panjang, menimbulkan kekhawatiran bahwa kekerasan dapat menyasar ribuan pengunjung serta warga lokal saat Piala Dunia berlangsung.
Kolumnis keamanan nasional Meksiko, Oscar Balderas, bahkan mengungkap klaim dari sumber tingkat tinggi.
Ia menyebut Meksiko “meminta AS untuk tidak mengambil tindakan apa pun guna menangkap atau menewaskan El Mencho pada 2026 karena kekerasan yang dapat ditimbulkannya di kota-kota Piala Dunia."
"Pembantaian ala CJNG terjadi saat mata dunia tertuju pada negara kita akan menjadi bencana bagi reputasi Meksiko,” ungkapnya, dikutip dari The Guardian, Senin (23/2/2026).
Keputusan memburu El Mencho pekan ini mengindikasikan adanya strategi berbeda antara kedua negara atau kemenangan pandangan tertentu di antara para pengambil kebijakan.
Laporan yang belum terkonfirmasi di Meksiko menyebut Amerika Serikat menekan agar El Mencho diamankan sebelum turnamen dimulai.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menghadapi dilema antara kepentingan domestik dan relasi dengan Presiden AS Donald Trump.
FIFA juga berada dalam posisi sensitif mengingat presidennya, Gianni Infantino, dikenal dekat dengan Trump.
Lihat Foto
Pertemuan pertama Trump dan Sheinbaum terjadi saat undian Piala Dunia, difasilitasi FIFA.
Meski memiliki pengaruh global, FIFA tetap bergantung pada pemerintah tuan rumah dalam memastikan keamanan.
Di hadapan publik, FIFA menyatakan optimisme.
“Kantor FIFA Meksiko telah bekerja selama tiga tahun dengan pemerintah federal, dan semua tingkatan pemerintahan, mengenai topik keamanan,” ujar Direktur Eksekutif FIFA di Meksiko, Jurgen Mainka, pada November 2025.
“Kami sangat yakin, sangat percaya diri bahwa semua protokol dan semua rencana yang sedang diimplementasikan untuk Piala Dunia akan memberi kita kerangka keamanan yang diperlukan untuk semua penggemar, semua tim, dan semua wasit pada 2026.”
Pemerintah Jalisco sebelumnya menyatakan akan menambah ribuan kamera keamanan, membeli kendaraan baru bagi aparat, serta menerapkan teknologi pencegah drone memasuki area terlarang.
“Keamanan sedang dikerjakan,” kata Sheinbaum pada musim gugur lalu.
“Hal ini telah dikerjakan dengan cara yang sangat terkoordinasi, dengan departemen kepolisian di kota-kota tuan rumah, negara bagian tuan rumah, dan sekretaris keamanan dan perlindungan sipil (federal), dan ada pekerjaan sangat penting yang sedang dilakukan.”
Pernyataan itu disampaikan sebelum gambar-gambar bus terbakar dan blokade menyebar di media sosial usai tewasnya bos kartel Jalisco.
Foto dan video tersebut mengejutkan banyak pihak di luar negeri, termasuk calon pendatang dari Korea Selatan, Kolombia, Uruguay, dan Spanyol, yang berencana menyaksikan laga di Jalisco.
Bagi sebagian warga Meksiko, peristiwa tersebut mengingatkan kembali pada Culicanazo.
Situasi yang memanas menuntut pemerintah membuktikan kemampuannya menjaga keamanan warga dan tamu internasional.
Tantangan terbesar adalah memastikan Piala Dunia 2026 berlangsung tanpa mengulang momen kelam seperti Agustus 2011, ketika bayang-bayang kejahatan terorganisasi memasuki stadion sepak bola.




