Keham Budaya Kembangkan Kesenian Pop Tingkilan di Kutai Kartanegara
Anggota Komunitas Keham Budaya.(Foto: Dok. Keham Budaya)
TENGGARONG, (KutaiRaya.com) : Sebuah komunitas seni budaya bernama Keham Budaya terus menunjukkan perkembangannya dalam melestarikan kesenian khas masyarakat hulu, khususnya pop tingkilan.
Komunitas ini berada di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dan dipimpin oleh Ketua Keham Budaya, Sahlil.
Sahlil menjelaskan, Keham Budaya ini terbentuk pada tahun 2024. Pada awal terbentuk, komunitas ini hanya beranggotakan dua orang. Dua orang tersebut memiliki tekat yang kuat, sehingga memberanikan unttuk membentuk komunitas seni.
"Awalnya kami cuma dua orang saja. Tapi kami bertekad membangun organisasi ini, jadi alat musik kami beli sendiri dulu," ujar Sahlil pada Kutairaya.com saat dihubungi, Sabtu (3/1/2025).
Seiring berjalannya waktu, Keham Budaya mulai aktif mempromosikan diri dengan mengikuti berbagai event kecil hingga festival besar. Salah satunya mengikuti Festival Erau Adat Kutai, di mana mereka berhasil meraih juara satu dalam perlombaan.
"Alhamdulillah, kemarin kami ikut Erau dan dapat juara satu," imbuhnya.
Kini, Keham Budaya telah memiliki anggota yang cukup banyak. Untuk pemain musik saja, jumlah anggotanya sekitar 15 orang.
Nama Keham Budaya sendiri memiliki arti sendiri. Komunitas ini berasal dari dua desa, Desa Lebak Cilong dan Desa Lebak Mantan. Nama Keham diambil dari Sungai Keham, sungai yang dulunya menjadi jalur utama masyarakat untuk mengambil kebutuhan hidup sekaligus menjadi batas antara dua desa tersebut.
"Sungai Keham itu dulu jadi jalur utama masyarakat dan juga batas dua desa. Dari situlah nama Keham kami ambil," sebutnya.
Untuk kesenian, Keham Budaya tidak hanya melestarikan pop tingkilan, tapi juga tingkilan tradisi, seni tari, dan kesenian lainnya. Tapi untuk pop tingkilan menjadi kesenian yang paling sering ditampilkan.
"Yang paling sering kami tampilkan memang pop tingkilan," katanya.
Meski terus berkembang, Keham Budaya masih menghadapi beberapa kendala, terutama dari segi alat musik. Saat ini, sebagian alat musik masih harus pinjam meminjam.
"Alat musik kami masih terbatas, jadi sekarang masih pinjam-pinjam," tuturnya.
Untuk dukungan dari pemerintah sendiri, ia mengaku, sejauh ini bantuan yang diterima masih berupa kesempatan tampil di berbagai event, sementara bantuan alat musik belum ada.
Saat ini, Keham Budaya akan tampil dalam ajang Acara Wadeh Urang Hulu (AWUH) di Kota Bangun. Rencananya mereka akan menampilkan kesenian pop tingkilan.
"Untuk anak-anak muda, jangan malu. Silakan gabung di Keham Budaya, mari kita kembangkan adat dan tradisi kita," ucapnya.
Ia juga berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam bantuan alat musik, agar kesenian tradisi masyarakat hulu dapat terus berkembang.
"Kami mohon bantuan alat musik supaya kami bisa lebih maksimal mengembangkan tradisi, khususnya tradisi orang hulu," tutupnya. (*zar)




