Prime Time News - Jakarta -
Iran menembakkan rudal balistik Sejjil ke Israel pada Minggu (15/3). Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam Al Jazeera menyatakan rudal tersebut untuk mengejar Perdana Menteri Israel, Netanyahu.
Penembakkan rudal balistik ini bukan tanpa alasan. Sejak akhir Februari lalu, Israel dan Amerika Serikat bekerja sama untuk menyerang Iran.
Iran membalas serangan tersebut dengan berbagai strategi, mulai dari penutupan Selat Hormuz hingga penembakkan rudal blastik. Sebagai informasi, Iran adalah salah satu negara Timur Tengah yang memiliki senjata rudal terbesar dan paling bervariasi.
Rudal Iran bisa menjangkau 300 km (rudal Shahab 1) hingga 2.500 km (rudal Soumar). Termasuk rudal jarak menengah, untuk pertama kalinya Iran menunjukkan kebolehan rudal Sejjil.
Tentang Rudal Sejjil
Rudal Sejjil adalah rudal berbahan bakar padat. Disebutkan Press TV, rudal Sejjil diluncurkan untuk menyerang pusat komando dan kendali rezim Israel serta infrastruktur militer penting. Kapasitas muatan rudal Sejjil mencapai 700 kilogram.
Rudal Sejjil memiliki jangkauan 2.500-2.500 km dengan dua tahap pelepasan. Hal Ini membuatnya bisa menjangkau Israel bahkan Benua Afrika.
Mampu bermanuver di ketinggian, rudal Sejjil dijuluki "dancing missile" karena bisa menghindari sistem pertahan rudal seperti Iron Dome milik Israel.
Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter sekitar 1,25 meter, dan berat sekitar 23.600 kilogram. Rudal ini dipersiapkan dan diluncurkan lebih cepat daripada sistem berbahan bakar cair lainnya.
Strategi Perang Iran
Perang yang berlangsung hampir satu bulan ini membuat Iran akan terus menciptakan "Chaharshanbe Suri regional" dengan menembakkan rudal balistik dan drone ke negara lain.
IRGC mengatakan bahwa sejumlah besar rudal, termasuk Khorramshahr yang merupakan rudal super berat dengan hulu ledak ganda, kemudian Kheybar, Qadr, dan Emad, telah dikerahkan. Sementara itu, laporan media-media lokal Israel menyebutkan sirene peringatan serangan udara berbunyi di area ibu kota Tel Aviv, Herzliya, dan setidaknya di 141 lokasi lainnya di berbagai wilayah Israel.
IRGC mengumumkan pada Minggu (15/3) waktu setempat bahwa operasi pembalasan itu dilaksanakan dengan kode operasi "Ya Zahra".
(nir/twu)