Prime Time News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 4,33 persen pada perdagangan Rabu (3/6/2026), terlempar ke level 5.927.
Pergerakan IHSG menunjukkan tren negatif yang mengkhawatirkan, dengan tekanan jual yang masif di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada pukul 11:15 WIB, IHSG tercatat anjlok hingga 4,33 persen, memicu aktivitas perdagangan yang sangat sibuk dengan volume transaksi mencapai 22 miliar lembar saham.
Nilai transaksi dari aksi jual beli saham mencapai Rp12,47 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,52 juta kali. Sebanyak 692 saham mengalami penurunan harga yang signifikan, sementara hanya 50 saham yang mencatatkan kenaikan, dan sekitar 71 saham lainnya stagnan. Emiten besar yang memberi tekanan pada indeks antara lain PT Amman Mineral Internasional (AMMN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Selain itu, sektor barang baku, infrastruktur, dan energi juga mendorong pelemahan IHSG, dengan sektor barang baku memimpin penurunan sebesar 9,09 persen.
Tekanan pada IHSG diperburuk oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang diperkirakan semakin melemah, mendekati Rp17.900 per dolar AS. Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas inflasi nasional, terutama di sektor properti dan farmasi. Di tengah ketidakpastian ini, BRI Danareksa telah memangkas target IHSG menjadi 7.200 pada akhir tahun 2026. Meskipun demikian, terdapat kabar positif dari sektor tertentu, seperti upgrade peringkat saham PT Chandra Asri (TPIA) oleh J.P. Morgan. Pemerintah juga berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan menggelontorkan dana Rp24 triliun untuk pembayaran Gaji ke-13 PNS, meskipun investor tetap disarankan untuk waspada terhadap pergerakan pasar yang tidak menentu.