Generasi Muda Bantu Lansia Masuki Dunia Digital
Prime Time News - Bagi Laura, seorang mahasiswi berusia awal dua puluhan yang tumbuh besar dengan internet, pengoperasian komputer hampir bersifat naluriah. Namun bagi bibinya, setiap klik masih merupakan perjalanan penemuan. Dan pertemuan yang akrab itu telah menjadi "ritual" khusus antara kedua generasi: generasi muda dengan sabar membimbing, sementara generasi yang lebih tua secara bertahap mengenal dunia digital yang semakin tak tergantikan.
Saat ini, menjadwalkan janji temu medis, berbelanja, membayar tagihan, atau menyelesaikan prosedur administratif semuanya terhubung dengan aplikasi daring. Hidup tanpa teknologi tampaknya seperti "tugas yang mustahil." Bagi Generasi Z, yang lahir ketika internet ada di mana-mana, keterampilan digital adalah hal yang sudah pasti. Tetapi bagi banyak orang dewasa yang lebih tua, setiap langkah dalam mengadopsi teknologi merupakan tantangan baru.
Setiap kali Laura mengunjungi neneknya, mereka akan memulai dengan membersihkan kotak masuk emailnya. Kemudian tibalah bagian yang paling disukai neneknya: belajar cara menggunakan media sosial, terutama Facebook.
"Dia sering takut tidak sengaja mengklik tautan atau tidak tahu cara mengirim ulang foto ke teman," cerita Laura. Metode Laura sangat lambat: menunjukkan langkah demi langkah, lalu membiarkannya mencoba sendiri. Untuk menghindari lupa, dia dengan hati-hati mencatat semuanya di selembar kertas kecil, bahkan menggambar bentuk tombol yang perlu ditekan.
Pada hari-hari berikutnya, dia kembali berlatih di bawah pengawasan dan bimbingan sabar cucunya.
Sebagai seorang pelajar yang bijaksana, Laura selalu menghindari penggunaan jargon teknologi yang rumit. Ia menyadari bahwa konsep-konsep yang tampaknya sederhana sama sekali tidak mudah dipahami oleh generasi neneknya.
“Misalnya, ikon folder di komputer,” jelas Laura. “Baginya, itu sama sekali tidak terlihat seperti sampul file, jadi dia tidak mengerti mengapa disebut ‘folder.’ Kami harus menemukan cara untuk menjelaskannya menggunakan gambar lain.”
Terkadang, instruksi harus diulang beberapa kali. Tapi Laura sama sekali tidak keberatan. Sebaliknya, dia menganggapnya sebagai pengalaman yang menyenangkan.
"Sangat menarik melihat seseorang menemukan media sosial untuk pertama kalinya," katanya sambil tertawa. "Ada hal-hal yang sangat jelas bagi saya, tetapi sama sekali baru baginya."
Namun, belajar tidak selalu mudah. Nenek Laura terkadang merasa putus asa ketika dia tidak langsung memahami sesuatu. Tetapi di usia 75 tahun, dia tetap gigih.
"Dia menikmati perasaan belajar hal baru," kata Laura. "Untuk usianya, itu hal yang luar biasa, mampu menyerap begitu banyak hal."
Faktanya, nenek Laura termasuk dalam minoritas lansia di Belgia yang menggunakan teknologi untuk mengakses media sosial. Menurut statistik dari Statbel, sekitar 20% lansia di negara tersebut menggunakan internet untuk mengakses platform media sosial.
Sebuah studi yang diterbitkan pada musim gugur tahun 2024, yang pertama kali mensurvei kelompok usia 75-89 tahun, menunjukkan bahwa kesenjangan digital antar generasi masih cukup besar. Namun, tren tersebut secara bertahap berubah. Pada tahun 2025, persentase orang dewasa yang lebih tua di Belgia yang belum pernah menggunakan internet telah menurun menjadi 31%, dibandingkan dengan 35% pada tahun sebelumnya.
Menyadari kebutuhan yang semakin meningkat, banyak inisiatif telah muncul untuk membantu lansia mengatasi hambatan teknologi.
Azzi Khaoula, 25 tahun, adalah salah satu orang yang terlibat dalam upaya tersebut. Lulusan komunikasi multimedia ini saat ini bekerja untuk sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Brussels yang menyelenggarakan kursus pelatihan keterampilan digital. Ia juga menyediakan layanan dukungan teknologi di rumah bagi mereka yang membutuhkan.
"Biasanya, orang-orang menghubungi saya ketika mereka memiliki masalah tertentu," kata Khaoula. "Beberapa ingin memeriksa rekening bank online mereka, yang lain tidak tahu cara masuk ke situs web layanan administrasi."
Menurutnya, kekhawatiran terbesar bagi para lansia adalah takut secara tidak sengaja menekan tombol yang salah. "Mereka takut membuat kesalahan, takut merusak peralatan," kata Khaoula.
Banyak orang juga bingung ketika menerima pesan teks aneh atau email mencurigakan. Dalam kasus seperti itu, mereka hanya membutuhkan penjelasan sederhana untuk menenangkan pikiran mereka.
Hal yang paling menarik bagi Khaoula adalah saat para siswa tiba-tiba memahami konsep tersebut. Dia ingat pernah menjelaskan "tab"—kartu halaman pada peramban internet. Ketika seorang pelanggan melihat halaman baru terbuka hanya dengan satu klik, dia hampir tercengang.
"Bagi orang lain, sekadar memahami fungsi satu tombol saja sudah cukup untuk memahami separuh cara menggunakan telepon," katanya.
Untuk mempermudah pembelajaran, Khaoula sering menggunakan analogi yang familiar. Misalnya, kata sandi diibaratkan dengan kunci brankas, sementara "awan" yang menyimpan data dijelaskan sebagai gudang yang tak terlihat.
Tidak semua orang memilih les privat dengan instruktur. Micheline, 72 tahun, lebih menyukai pembelajaran di kelas.
Di kota Mont-Saint-Libert, dia telah mengikuti kelas komputer yang diselenggarakan secara lokal selama bertahun-tahun. Setiap minggu, dia pergi ke kelas untuk menjelajahi fitur-fitur baru.
"Karena saya sedang belajar, saya akan terus belajar," katanya dengan antusias.
Sebelumnya, dia sering meminta bantuan anak dan cucunya ketika mengalami masalah dengan telepon atau komputernya. Tetapi ada satu hal yang membuatnya tidak senang. "Mereka sering mengambil telepon dan mengetik begitu cepat sehingga saya tidak bisa memahami apa pun."
Menurutnya, orang yang lebih tua membutuhkan waktu untuk memahami dan berlatih berulang kali. Itulah mengapa dia memutuskan untuk mengikuti kelas agar mendapatkan pengajaran sesuai dengan kecepatannya sendiri.
Dorongan awalnya berasal dari perubahan kecil namun signifikan: banknya berhenti mengizinkan transfer langsung di loket.
"Saya terpaksa belajar cara menggunakan aplikasi perbankan," katanya. "Tidak ada cara lain."
Menurut Profesor Yves Deville, seorang ahli ilmu komputer di Universitas UCLouvain, perasaan "dipaksa" oleh teknologi cukup umum di kalangan orang dewasa yang lebih tua.
"Banyak orang merasa terpinggirkan," ujarnya. "Tanpa keterampilan digital, mereka bahkan tidak dapat menjalankan hak-hak sipil dasar seperti prosedur administratif."
Di banyak keluarga, dukungan dari anak dan cucu menjadi jembatan yang membantu para lansia mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
Chloé, 24 tahun, seorang pengacara muda, sering membantu kakek-neneknya dengan urusan administrasi online. Dia bahkan membuat buku panduannya sendiri dengan mengambil tangkapan layar dan mencatat setiap langkah secara detail.
Neneknya, yang dulunya seorang sekretaris, cukup mahir menggunakan komputer. Tetapi kakeknya justru sebaliknya.
"Dia selalu bilang dia tidak perlu belajar," Chloé tertawa. "Tapi sekarang dia harus belajar, setidaknya untuk menyerahkan dokumen ke perusahaan asuransi."
Segalanya tidak selalu berjalan mulus. Suatu kali, dia memanggil Chloé ke rumah dengan tergesa-gesa untuk memperbaiki printer yang "rusak". Pada akhirnya, penyebabnya ternyata hanya... kehabisan tinta.
"Dia mengganti kartrid tinta belasan kali," cerita Chloé. "Tapi kali itu dia benar-benar menolak untuk mempercayai saya."
Namun, situasi seperti itu biasanya berakhir dengan tawa.
Di sudut lain Brussels, Valentine – seorang wanita muda – juga menghabiskan waktu setiap minggu mengunjungi kakek-neneknya. Alih-alih menyiapkan buku panduan, dia hanya duduk di samping mereka sementara mereka menggunakan ponsel mereka.
Pendekatan itu membantu kakek-nenek saya merasa lebih percaya diri, karena mereka selalu takut bahwa satu kesalahan pengetikan saja bisa "merusak segalanya."
Menurut Profesor Deville, ketergantungan pada generasi muda di bidang teknologi tidak dapat dihindari. Namun, ia juga melihat sisi positifnya.
"Dahulu, para tetua mengajarkan kaum muda tentang kehidupan. Kini, peran itu agak terbalik," katanya.
Namun, perubahan ini tidak mengurangi pentingnya hubungan antar generasi. Sebaliknya, hal ini membuka jalan baru untuk terhubung.
Teknologi, yang dulunya terasa asing bagi banyak orang lanjut usia, kini menjadi jembatan penghubung.
Bagi nenek Laura, kebahagiaan setiap harinya sangat sederhana: mencari foto yang indah di Google, mengunggahnya di Facebook, dan mengirimkan ucapan selamat pagi kepada teman-teman.
Sejak Laura mengajarinya cara memposting ulang foto, halaman Facebook-nya menjadi jauh lebih ramai. "Dia memposting foto setiap pagi," kata Laura sambil tertawa.
Dan setiap sapaan sederhana itu, yang dikirim dari komputer yang pernah ia takuti, menjadi benang merah yang memperpanjang persahabatan dan kegembiraan masa tua di dunia digital.




