Prime Time News - BLITAR – Dunia sepak bola internasional saat ini tengah diguncang kabar yang sangat mengkhawatirkan. Ambisi FIFA untuk menggelar turnamen paling meriah dalam sejarah kini terancam kandas setelah muncul desakan kuat agar Piala Dunia 2026 Batal atau dipindahkan lokasinya. Hal ini dipicu oleh situasi keamanan di Meksiko yang kian tak terkendali pasca-meletusnya perang terbuka antara kartel narkoba paling ganas di dunia, CJNG, melawan militer setempat yang dibantu oleh satuan tugas Amerika Serikat.
Kekacauan di "Negeri Matahari" tersebut mencapai puncaknya setelah pemimpin tertinggi kartel CJNG, El Mencho, dilaporkan tewas dalam operasi militer besar-besaran. Kematian sosok yang disebut sebagai penerus Pablo Escobar ini memicu gelombang aksi balasan yang brutal di berbagai kota besar di Meksiko. Dengan kondisi negara yang kini menyerupai medan perang, banyak pihak mulai menyuarakan agar status tuan rumah Piala Dunia 2026 Batal demi keselamatan nyawa pemain dan penggemar yang sudah memesan tiket.
Ketegangan ini tidak hanya bersifat lokal. Intervensi militer Amerika Serikat di bawah komando Donald Trump dalam memburu kartel di perbatasan telah memicu kemarahan besar kelompok kriminal tersebut, yang bahkan mengancam keselamatan para pemimpin negara. Situasi politik yang memanas, ditambah ancaman serangan terhadap Iran pada akhir Februari, membuat narasi mengenai Piala Dunia 2026 Batal bukan lagi sekadar isapan jempol, melainkan sebuah pertimbangan logis bagi keselamatan global.
Dampak dari perang internal ini sudah merambah ke lapangan hijau. Dalam sebuah cuplikan video yang viral, pertandingan sepak bola wanita antara Necaxa melawan Queretaro terpaksa dihentikan seketika karena terdengar suara ledakan dan rentetan tembakan di luar stadion. Fakta bahwa Piala Dunia akan digelar kurang dari empat bulan lagi membuat publik pesimistis Meksiko mampu menjamin keamanan venue pertandingan.
Menghadapi potensi kerugian miliaran dolar akibat pembatalan kontrak logistik, infrastruktur, dan hak siar, Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan langsung menggelar rapat darurat. Jika negara-negara Eropa benar-benar mundur, FIFA terancam kehilangan setengah dari total pendapatan tiket dan penyiaran yang menjadi sumber "cuan" utama mereka.
Sebagai solusi tercepat, muncul wacana kuat untuk memindahkan seluruh rangkaian pertandingan ke Inggris. Inggris dianggap sebagai negara yang paling siap secara infrastruktur dan keamanan untuk menjadi tuan rumah pengganti dalam waktu singkat. Hal ini pernah terjadi pada tahun 1986 ketika Kolombia mengundurkan diri dan posisi tuan rumah dipindahkan ke Meksiko. Kini, sejarah tampaknya akan berulang dengan arah yang berbeda demi menyelamatkan martabat sepak bola dari bayang-bayang kekerasan kartel dan konflik politik. (*)