Prime Time News - Di luar polemik administratif di Afrika, persiapan Piala Dunia 2026 juga dibayangi isu keamanan di Amerika Utara, khususnya di Amerika Serikat dan Meksiko. Tahun 2025 menjadi tahun paling mematikan sejak dua dekade bagi kantor Imigrasi & Bea Cukai AS (ICE), dengan 32 orang meninggal dunia dalam tahanan ICE sepanjang 2025, menurut Guardian. Sementara seorang petugas ICE melakukan penembakan fatal terhadap warga AS bernama Renee Good pada 7 Januari lalu.
Di Meksiko, peningkatan kekerasan kartel setelah kematian seorang pemimpin geng ternama memunculkan spekulasi soal kemungkinan relokasi pertandingan. Namun, FIFA menegaskan komitmennya terhadap rencana awal. Seorang juru bicara FIFA menyatakan kepada The Athletic: “Keselamatan dan keamanan tetap menjadi prioritas utama, dan FIFA memiliki kepercayaan penuh kepada ketiga negara tuan rumah.”
Sumber internal menyebut relokasi pertandingan hanya akan menjadi “opsi terakhir” dan dipertimbangkan jika ada kekhawatiran serius dari otoritas keamanan maupun mitra komersial. Untuk saat ini, fokus tetap tertuju pada lapangan, juga ruang sidang. Apakah Nigeria benar-benar akan mendapatkan tiket “pintu belakang” ke Piala Dunia dan terbang ke Amerika Utara untuk menghadapi tim-tim seperti Inggris atau Kroasia, masih harus menunggu keputusan akhir FIFA.