Drama Sekolah 'The Other Side of the City' Menjadi Fenomena di VTV
Waktu Utama

Drama Sekolah 'The Other Side of the City' Menjadi Fenomena di VTV

Prime Time News - Meskipun baru saja memulai penayangan di jam tayang utama, "The Other Side of the City" dengan cepat menjadi fenomena media sosial, dengan cuplikan-cuplikan yang secara konsisten menarik jutaan penayangan dan ribuan komentar antusias dari para pemirsa.

Film ini mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kelangkaan drama bertema sekolah selama bertahun-tahun, menghadirkan perspektif yang segar, realistis, dan mudah dipahami ke layar kaca. Penonton tidak hanya memuji konten film karena secara akurat mencerminkan realitas sosial, tetapi juga terhibur oleh alur cerita "balas dendam" yang mendebarkan. Hal ini membantu film tersebut memenangkan hati beragam penonton.

Film "The Other Side of the City" berkisah tentang perjalanan pendewasaan dua sahabat SMA dengan kepribadian yang sangat berlawanan: Khue (Thai Vu) - seorang "jenius matematika" yang introvert, selalu menyendiri, dan merasa rendah diri karena terisolasi dan diejek oleh teman-temannya; dan Cuong (Vo Hoai Vu) - seorang anak laki-laki pemberontak, lemah secara akademis tetapi berintegritas, yang selalu siap menggunakan tinjunya untuk melindungi teman-temannya.

Perpaduan keduanya menciptakan efek positif, menghadirkan nuansa segar dan energik ke layar kaca.

Selain dua pemeran utama pria, film ini juga menampilkan sejumlah aktor muda seperti Tú Quyên sebagai Tuyết Lan, seorang siswi pindahan yang cantik namun misterius; dan Ali Thục Phương sebagai Thảo, adik perempuan Cương yang nakal.

Yang menarik, peran orang tua diperankan oleh aktor veteran seperti Minh Tiep, Huyen Sam, Khanh Linh, Thuy Duong, dan lain-lain, menciptakan fondasi yang kokoh yang membantu menjelaskan luka psikologis karakter muda melalui hubungan dekat mereka dengan keluarga.

Tema ini sudah lama diangkat, tetapi pendekatan barunya sangat dramatis.

Alih-alih hanya berfokus pada lamunan murni kehidupan sekolah, *The Other Side of the City* menggali isu-isu pelik dan aktual seperti kekerasan di sekolah, tekanan untuk mencapai nilai tinggi, dan trauma psikologis yang dialami oleh siswa.

Film ini mengeksplorasi fenomena isolasi teman sebaya, kecemburuan, dan kekurangan dalam pengasuhan keluarga terhadap anak-anak. Penonton mengapresiasi isi film ini karena realismenya, yang secara akurat mencerminkan realitas sosial dengan membahas bagaimana seorang "jenius matematika" seperti Khue menjadi sasaran ejekan dan perundungan hanya karena tidak adanya figur ayah.

Di bawah arahan Seniman Berprestasi Vu Truong Khoa, film ini tidak terasa berat meskipun mengeksplorasi isu-isu negatif. Sutradara dengan terampil menempatkan karakter-karakter muda dalam hubungan dekat dengan keluarga mereka untuk menjelaskan akar penyebab luka psikologis, pemberontakan, atau perasaan rendah diri mereka.

Penggambaran para ibu dalam film ini, seperti Ibu Xuan, Ibu Phuc, dan Ibu Nhung, dengan harapan berlebihan atau tekanan mencari nafkah yang tanpa disengaja membahayakan anak-anak mereka, sangat realistis dan kaya akan emosi, sehingga menciptakan empati yang mendalam pada para penonton.

Para pemeran dari Generasi Z menarik perhatian.

Salah satu aspek yang paling menarik dari film ini adalah chemistry yang luar biasa antara kedua pemeran utama pria, Vo Hoai Vu dan Thai Vu, yang dikenal oleh penonton sebagai "duo Vu".

Vo Hoai Vu, putra dari Seniman Berprestasi Vo Hoai Nam, memerankan karakter Cuong sebagai sosok yang energik, pemberontak, namun sangat berintegritas dan penyayang. Tindakan Cuong yang menggembirakan dan tegas dalam membela sahabatnya dari para pengganggu mendapat "curahan pujian" dari para penonton atas daya tarik dan dampak setiap dialognya.

Sementara itu, Thai Vu, dalam perannya sebagai Khue, terus menunjukkan kekuatannya dalam akting yang penuh nuansa untuk berhasil menggambarkan kesepian dan ketakutan seorang "jenius matematika" yang hidup terpencil dan sangat menderita akibat perundungan di sekolah.

Thai Vu berbagi bahwa ini adalah peran yang menantang dengan kedalaman psikologis yang kompleks, karena karakter tersebut terus-menerus membawa rasa rendah diri karena ejekan dari teman-temannya. Interaksi antara seorang siswa yang introvert dan seorang teman yang pemberontak dan ksatria menciptakan persahabatan yang indah, membantu mereka menjalin ikatan dan saling menutupi kekurangan masing-masing dalam perjalanan mereka menuju kedewasaan.

Ditayangkan tepat selama liburan musim panas.

Dalam konteks di mana drama televisi tentang anak-anak dan kehidupan sekolah semakin langka dalam beberapa tahun terakhir, dengan karakter siswa sebagian besar muncul sebagai peran pendukung, "The Other Side of the City" muncul sebagai angin segar, membawa nuansa baru ke layar kaca.

Fakta bahwa serial ini ditayangkan selama musim panas tidak hanya membantu mengisi kekosongan dalam genre ini tetapi juga memenuhi kebutuhan hiburan pemirsa muda selama liburan sekolah mereka. Pada saat yang sama, cerita-cerita edukatif yang menekankan pemahaman dan ikatan keluarga juga menarik perhatian banyak orang tua.

Dengan alur cerita yang semakin menarik dan kejutan dramatis, "The Other Side of the City" diperkirakan akan terus memikat penonton dan meninggalkan jejaknya di slot waktu utama VTV dalam waktu dekat.

You can share this post!