Prime Time News - Parapuan.co - Tren desain rumah datang dan pergi dengan sangat cepat, terutama sejak media sosial menjadi sumber inspirasi utama. Dalam beberapa tahun terakhir saja, publik sudah “jatuh cinta” pada berbagai gaya seperti cottagecore, grandma decor, hingga Japandi.
Namun, mengikuti semua tren tersebut bukan hanya melelahkan, tapi juga tidak selalu bijak secara finansial. Kini, semakin banyak ahli menyarankan pendekatan berbeda: berhenti mengejar tren, dan mulai percaya pada selera pribadi.
Tren Boleh Datang, Tapi Jangan Jadi Patokan Utama
Banyak orang tergoda untuk terus memperbarui tampilan rumah agar terlihat “kekinian”. Padahal, tren desain bisa berubah dalam hitungan bulan. Apa yang populer hari ini, bisa saja terasa usang dalam waktu singkat.
Pendiri Angi, Angie Hicks, menekankan pentingnya kembali pada kebutuhan pribadi. “Ketika Anda memprioritaskan apa yang sesuai dengan gaya hidup dan apa yang benar-benar Anda sukai, Anda lebih mungkin merasa puas dengan investasi tersebut, bahkan saat tren datang dan pergi,” ucapnya dikutip dari Real Simple.
Artinya, rumah ideal bukanlah yang paling mengikuti tren, melainkan yang paling mencerminkan penghuninya.
Kenapa Mengikuti Tren Bisa Jadi Bumerang?
Salah satu masalah utama dari tren adalah sifatnya yang cepat berubah. Jika terus diikuti, kamu bisa menghabiskan banyak uang hanya untuk mengejar tampilan yang tidak bertahan lama.
Selain itu, renovasi rumah bukanlah investasi kecil. Setiap keputusan—mulai dari kabinet dapur hingga lantai—seharusnya dipilih dengan pertimbangan jangka panjang.
“Ketika Anda melakukan investasi besar, seharusnya itu mencerminkan cara Anda hidup, bukan sekadar apa yang sedang populer saat ini,” jelas Hicks.