Prime Time News - Salah seorang rekan kerja yang setia membaca tulisan saya di Kompasiana menanyakan mengapa saya tidak menulis dalam jeda yang cukup panjang?
Mau bilang sibuk, itu alasan klasik, toh saya masih bisa mengerjakan urusan rumah tangga hingga urusan belajar menanam bunga. Jujurly, mood menulis saya menguap entah ke mana.
Sudah mencoba beberapa kali, tapi selalu gagal ketika menengok cucian di sudut kamar, dapur sempit berantakan, atau melihat si Ciko, doggy kesayangan, meronta-ronta manja.
Mood booster yang manis itu justru muncul saat saya sedang dalam kesibukan yang cukup tinggi menjadi panitia Paskah di Paroki Santo Yosef Pekerja Penfui Kupang. Bersama Kaka Gerald sebagai ketua tim sekaligus menjadi pemilik ide kreatif yang sangat detail, kami dipercaya untuk bergabung dalam tim dekorasi.
Empat Misa, Empat Tema Berbeda
Setiap misa dalam rangkaian Paskah ini memiliki tema dekorasi yang berbeda. Untuk itu, tim menyiapkan dedaunan lokal yang menunjang setiap tema, sedangkan bunga-bunga yang tahan lama seperti lily, krisan, peacock, mawar aneka warna dipesan secara khusus.
Dimulai dari Minggu Palma yang meriah. Bagian dalam gereja didominasi oleh daun palma. Rangkaian bunga yang dibuat pun 80 persen menggunakan daun palma.
Memang, rangkaian yang diharapkan tidak maksimal, sedikit menyimpang dari rencana awal yang dibuat oleh Kaka Gerald, tapi tak mengapa. Kami belajar dari kekurangan itu dan memperbaikinya untuk rangkaian di momen berikutnya.
Lalu saat Misa Kamis Putih, suasana yang khidmat didukung dengan sentuhan bunga putih dan latar dedauan hijau. Kali ini, sangat puas dengan dekorasi yang sudah kami buat.
Kombinasi yang dihasilkan dari paduan bunga dan dedaunan hijau seperti daun andong, sirih gading, palem jari dan daun lainnya, menjadikannya sangat cantik dan terlihat mewah.