Bulan Bahasa Bali 2026: 1.200 Peserta Ikuti Lomba Daring untuk Pelestarian Budaya
Sumber Foto: NUSABALI.com
Teknologi

Bulan Bahasa Bali 2026: 1.200 Peserta Ikuti Lomba Daring untuk Pelestarian Budaya

DENPASAR, NusaBali.com - Perayaan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 menjadi momentum penguatan pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali di tengah perkembangan teknologi.

Pemerintah Provinsi Bali menilai pendekatan digital dan kreativitas anak muda menjadi kunci agar warisan leluhur tetap relevan di era modern.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengatakan Bulan Bahasa Bali merupakan cerminan komitmen bersama dalam menjaga dan mengembangkan budaya Bali. Menurutnya, pelestarian tidak hanya dimaknai sebagai menjaga warisan, tetapi juga mengembangkannya sesuai perkembangan zaman.

“Niki sampun pinaka cihna iraga nyarengin ngawerdiang, ngelestariang budaya Bali. Pengembangan juga harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya di sela-sela workshop Lontar dan Aksara Bali di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali yang digelar oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID), pada Jumat (27/2) pagi, sebagai rangkaian Bulan Bahasa Bali 2026.

Ia menilai generasi muda saat ini sangat kreatif dan inovatif sehingga pendekatan pelestarian budaya pun harus masuk ke dunia yang mereka kuasai, termasuk dunia digital. Karena itu, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali tidak hanya dilakukan secara konvensional, tetapi juga melalui sistem daring.

Pada pelaksanaan tahun ini, lomba juga digelar secara online dan mendapat respons di luar perkiraan. Alit Suryana menyebut jumlah pendaftar mencapai sekitar 1.200 peserta. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari Bali, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, hingga Sulawesi. “Awalnya kami kira pesertanya dari Bali saja karena ini terkait Bahasa Bali. Ternyata dari luar Bali juga banyak yang ikut,” katanya.

Adapun cabang lomba yang digelar antara lain penulisan cerpen berbahasa Bali, desain poster berbahasa Bali, hingga film pendek mebase Bali. Ia menilai ketika dunia digital dan teknologi yang digemari anak muda dimanfaatkan untuk pelestarian bahasa daerah, antusiasme mereka sangat tinggi.

Tema Bulan Bahasa Bali tahun ini adalah 'Atma Kerti: Udyana Punaning Jiwa' yang dimaknai sebagai taman untuk mengembangkan diri menuju kesempurnaan jiwa. Menurut Alit Suryana, kesempurnaan jiwa yang dimaksud adalah kesadaran kolektif bahwa Bahasa Bali merupakan warisan adiluhung leluhur yang harus dijaga.

Ia menegaskan, menjaga dan menggunakan Bahasa Bali merupakan bentuk penghormatan dan bakti kepada para leluhur. “Walaupun kita hidup di zaman teknologi maju, kita tidak bisa menciptakan bahasa seperti warisan leluhur kita. Kita punya Aksara Bali, punya sastra Bali. Itu luar biasa,” cetus Kadisbud yang sebelumnya menjabat Kabid Tradisi dan Warisan Budaya pada Disbud Bali ini.

Ke depan, pembinaan Bahasa dan Aksara Bali diharapkan semakin aktif melalui media sosial. Ia mengaku sering melihat kreativitas para penyuluh Bahasa Bali di TikTok dan Instagram yang memberikan tuntunan menulis aksara Bali dan berbahasa Bali yang baik.

Dalam kesempatan tersebut, Alit Suryana juga mengingatkan pentingnya memahami tingkatan bahasa atau 'sor singgih' dalam Bahasa Bali sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua. Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut atau malu menggunakan Bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan malu berbahasa Bali. Jangan merasa kuno. Gunakan sehari-hari. Yang penting jangan memisuh,” sebutnya. Menurutnya, Bahasa Bali merupakan identitas orang Bali. Bahkan ketika menggunakan Bahasa Indonesia di luar daerah, logat Bali tetap terasa. “Bahasa Bali punika pinaka identitas, ciri khas ke-Bali-an kita,” tambahnya.

Ia berharap melalui festival dan lomba yang digelar, akan lahir tokoh-tokoh muda pelestari Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali di masa depan. “Mungkin 20 tahun lagi adik-adik ini jadi tokoh di tempatnya masing-masing. Ajegang budaya Bali, pemekas Bahasa, Aksara, lan Sastra Bali,” tuturnya.

Sementara itu, dalam pelaksanaan kegiatan ini di BTID, sekitar 20 siswa SMP–SMA se-Kecamatan Denpasar Selatan dan sekitar 20 peserta dari kalangan umum meramaikan event ini.

Alit Suryana menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Lontar dan Aksara Bali oleh BTID. Ia menegaskan aksara dan Bahasa Bali merupakan roh orang Bali. “Aksara dan Bahasa Bali adalah roh orang Bali. Setiap napas orang Bali ada Bahasa dan Aksara Bali,” ungkapnya.

Ia juga mendorong agar kawasan KEK Kura-Kura Bali turut memperkuat identitas lokal, termasuk dengan mengenakan busana adat Bali setiap hari Kamis serta memasang aksara Bali di lingkungan kawasan. Menurutnya, generasi muda Bali justru akan semakin dihargai jika mampu menguasai Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan bahasa asing sekaligus.

Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan kawasan KEK Kura-Kura Bali tidak hanya dikembangkan sebagai pusat komersial, tetapi juga mendukung pelestarian budaya lokal. “Kegiatan ini berlangsung dua hari, hingga besok,” paparnya.

Landscape Planning and Strategy BTID, Pincky Sudarmawan, menambahkan di kawasan tersebut juga terdapat Bali Abode Galeri yang menyimpan berbagai koleksi budaya Bali, termasuk lontar. Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kebudayaan turut meninjau koleksi galeri yang mencakup gambelan, tika, hingga lontar sebagai bagian dari upaya penguatan identitas budaya di kawasan tersebut.* tra