35 Tahun Transformasi Super Saiyan Goku: Revolusi Genre Shonen
Hiburan

35 Tahun Transformasi Super Saiyan Goku: Revolusi Genre Shonen

Prime Time News - Jakarta - Bagi para pencinta anime dan manga di seluruh dunia, pasti udah nggak asing lagi dengan pola cerita di mana MC (main character) digambarin mengalami transformasi dan jadi OP banget. Terus siapa sih sebenarnya yang bikin ide ini dipakai terus?

Ternyata momen ikonik yang menjadi standar emas dari semua adegan peningkatan kekuatan (power-up) itu adalah, transformasi Super Saiyan pertama Goku. Momen legendaris ini terjadi dalam seri Dragon Ball Z yang kini telah genap berusia 35 tahun, tepatnya pada episode 95 yang berjudul Transformed at Last yang tayang pada 12 Juni 1991.

Ketika mendiang mangaka Akira Toriyama pertama kali menggambar transformasi ini di majalah Weekly Shonen Jump, (dan kemudian diadaptasi ke layar kaca oleh Toei Animation dalam pertarungan sengit melawan Frieza di Planet Namek), ia tidak hanya memberikan jurus baru bagi karakter utamanya. Toriyama secara tidak sengaja telah mendefinisikan ulang formula cerita komik remaja Jepang untuk generasi-generasi berikutnya.

Baca juga: Manga The Ichinose Family Deadly Sins Segera Terbit dalam Bahasa Inggris

Sebelum kemunculan Super Saiyan, konsep naik level atau mendapatkan kekuatan baru dalam cerita shonen biasanya didapatkan lewat latihan keras, meditasi, atau bantuan eksternal. Namun, transformasi Goku lahir dari sesuatu yang jauh lebih emosional: rasa duka dan amarah yang murni.

Melihat sahabat masa kecilnya, Krillin, diledakkan berkeping-keping oleh Frieza tepat di depan matanya memicu badai emosi dalam diri Goku. Kilat petir menyambar, bumi berguncang, rambut hitamnya berdiri dan berubah menjadi pirang keemasan, diselimuti oleh aura energi yang membara.

Momen ini bukan sekadar pamer kekuatan baru, melainkan sebuah transformasi psikologis dimana seorang petarung yang biasanya pemaaf berubah menjadi perwujudan amarah yang absolut.

Efek dari tayangnya episode tersebut langsung mengubah peta industri anime global. Karakteristik transformasi Super Saiyan - perubahan warna rambut, aura energi yang memancar, dan luapan emosi ekstrem - langsung diserap menjadi cetak biru (blueprint) bagi banyak mangaka generasi setelah Toriyama.

Hampir semua anime shonen modern berutang budi pada momen 35 tahun lalu ini. Pengaruhnya dapat dilihat dengan jelas pada transformasi ikonik lainnya seperti:

Mode Nine-Tails Fox (Kurama) milik Naruto. Wujud Hollowfication atau Bankai Ichigo Kurosaki dalam Bleach. Gear 5 milik Luffy dalam One Piece, yang bahkan sengaja didesain sebagai dekonstruksi jenaka dari gaya transformasi serius ala Super Saiyan.

Di luar industri anime, transformasi ini juga telah melebur ke dalam budaya pop global. Istilah "going Super Saiyan" kini jamak digunakan oleh para atlet profesional, musisi hip-hop, hingga masyarakat awam untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang sedang berada dalam fokus tertinggi atau performa puncak mereka.

Baca juga: 5 Anime dengan Penonton Terbanyak Sepanjang Masa

Menariknya, di balik dampak budayanya yang luar biasa besar, keputusan Akira Toriyama mengubah rambut Goku menjadi pirang (yang digambarkan putih polos tanpa warna dalam manga hitam-putih) sebenarnya didorong oleh alasan yang sangat praktis.

Dalam berbagai wawancara semasa hidupnya, Toriyama mengungkapkan bahwa ia lelah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memblok hitam rambut Goku di setiap panel komik.

Dengan membuat rambutnya menjadi putih/pirang, asistennya tidak perlu lagi mewarnai rambut tersebut, sehingga menghemat waktu produksi yang sangat berharga demi mengejar tenggat waktu mingguan.

Siapa sangka, sebuah solusi praktis untuk memotong waktu kerja justru melahirkan visual paling ikonik dalam sejarah animasi dunia.

Video: Rugikan Industri Anime Jepang Rp 257 T, Situs Ilegal HiAnime Ditutup

Video: Rugikan Industri Anime Jepang Rp 257 T, Situs Ilegal HiAnime Ditutup

(ass/wes)

You can share this post!